Tuesday, September 15, 2015

Taman Eden - Dimana engkau kini !


Kami menemukan bahwa gambaran letak dan posisi Taman Eden ternyata juga dapat kita pelajari dan temukan dalam diri dan tubuh manusia; dengan mengamati sistem peredaran darah dan organ jantung
Fakta mengatakan: Taman Eden bukan tepat tinggal Allah, melainkan hanya tempat pertemuan antara Allah dan manusia

Taman Eden, dari bahasa Ibrani Gan Eden, (Arab : Jannatul 'Adn) adalah sebuah tempat yang diceritakan dalam Kitab Kejadian pasal 2 dan 3; bagian dari agama Abrahamik. Cerita Taman Eden mengisahkan tentang bagaimana Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, memerintahkan mereka untuk tidak memakan buah dari Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat, dan bagaimana mereka dikeluarkan dari taman tersebut setelah melanggar perintah-Nya, karena tergoda oleh ular, dan memakan buah dari pohon Pengetahuan tersebut. Sebagai bagian dari pengusiran tersebut, kerubim (malaikat-malaikat kecil) dan sebuah pedang berapi dipasang di depan taman tersebut, untuk mencegah manusia kembali dan memakan dari Pohon Kehidupan.
Dalam cerita taman tersebut terletak di Eden, dan oleh karena itu "Eden" menandakan sebuah wilayah yang lebih besar yang merupakan tempat dari taman itu dan bukan nama taman tersebut. Dan oleh karena itu taman tersebut terletak di Eden. Dan sebagian orang menghubungkan antara Taman Eden dengan Firdaus (taman sorgawi dalam agama Timur-Tengah atau taman Allah ) sebenarnya berbeda arti dan maknanya.
Inti yang ingin disampakan melalui bagian ini adalah kebaikan Allah yang tidak terkira bagi manusia. Allah bukan hanya menciptakan bumi yang sungguh amat baik (Kej 1:31), namun Ia secara khusus juga menyediakan tempat tinggal yang sempurna bagi manusia. Penekanan pada kesempurnaan taman ini terlihat dari usaha penulis Kitab Kejadian untuk menceritakan keadaan taman secara detil. Penjelasan ini mencakup ketersediaan air yang sangat banyak (Kej 2:10), lingkungan yang melimpah dengan emas dan batu permata (Kej 2:11-12), dan kekayaan tanaman di dalamnya (Kej 2:9).
Sebagian orang mencoba meragukan historisitas keberadaan Taman Eden dan meyakini bahwa taman eden terdapat di bumi. Beberapa beranggapan bahwa taman ini terletak di sorga, sementara yang lain meyakini bahwa taman ini hanyalah sebuah simbol kesempurnaan. Salah satu faktor yang memicu pendapat seperti ini adalah kesulitan dalam menentukan posisi persis Taman Eden.

1. Pemahan bahwa Taman Eden berada di suatu tempat di muka Bumi
Paham yang meyakini bahwa taman eden ibu benar benar berada di bumi bukan di sorga atau tempat yang letaknya diatas ( diluar bumi ) dengan alasan sebagai berikut Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah penjelasan tentang lokasi taman ini: sungai-sungai yang mengalir dari taman itu disebutkan dengan nama dan ciri khas mereka masing-masing (2:10-14). Penambahan detil ini jelas mengindikasikan posisi yang konkret dari Taman Eden, apalagi dua sungai yang disebutkan memang benar-benar ada di bumi (Efrat dan Tigris, 2:14). Satu hal lain lagi yang turut mendukung keberadaan nyata Taman Eden adalah kisah penghukuman Kain di 4:1-16. Ayat 16 menjelaskan bahwa Kain pergi dan menetap di tanah Nod, di sebelah timur Eden. Karena tanah Nod jelas merujuk pada suatu tempat yang konkret (fisik) , maka tanah Eden juga pasti merupakan sesuatu yang riil.

Selain alasan di atas, satu hal yang tidak boleh kita abaikan adalah efek nyata dari peristiwa yang terjadi di Taman Eden. Ketika Adam dan Hawa melanggar perintah Allah dengan memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, pelanggaran ini berdampak besar bagi semua umat manusia. Semua orang turut berdosa di dalam Adam dan mewarisi dosanya (Roma 5:12- 21). Seandainya taman ini hanyalah sebuah mitos, maka peristiwa di dalamnya juga sebuah mitos. Sulit dipahami mengapa sebuah mitos bisa memiliki dampak nyata yang sedemikian besar. Paulus bahkan beberapa kali mengutip peristiwa kejatuhan ke dalam dosa ini sebagai suatu peristiwa historis (2Kor 11:3 “sama seperti Hawa yang diperdayakan oleh ular yang licik itu” dan 1 Tim 2:13-14 “lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itu yang tergoda”). Jelas, keberadaan Taman Eden merupakan sesuatu yang konkret dan nyata, sama seperti dampak dari peristiwa kejatuhan yang begitu nyata.
Tidak hanya itu Fakta yang ada saat ini adalah di bumi selain manusia juga dipenuhi oleh mahluk hidup lainnya ( tumbuhan dan hewan ); Alkitab mengatakan dalam Kej 2 : 19 dan 20 bahwa di taman eden Allah menciptakan segala binatang di hutan dan burung diudara ; kemudian manusia memberi nama setiap mahluk yang hidup. Dan Allah hanya mengutuk ular - Adam dan Hawa serta mengusirnya dan menempatkan di timur taman eden ( agama islam menyebutnya bumi ). Sejak kapan segala binatang hutan dan burung di taman eden dikutuk juga sehingga keluar dari taman eden. Fakta ini juga memperkuat bahwa taman eden berada di bumi.
Penulis Kitab kejadian memakai dua penyebutan yang sedikit berbeda untuk taman ini: “taman di Eden” (Kej 2:8) dan “ taman Eden ” (Kej 2:15; 3:23-24). Perbedaan ini menunjukkan bahwa Eden merupakan suatu area geografis tersendiri (Kej 2:10; 4:16), yang di dalamnya Allah menciptakan sebuah taman yang sangat indah untuk manusia. Di bagian lain Alkitab taman ini disebut sebagai “taman TUHAN” ( Kej 13:10; Yes 51:3) atau “taman Allah” (Yeh 28:13; 31:9). Kalau “ Taman Eden ” lebih menekankan posisi taman, sebutan “taman TUHAN / Allah ” lebih menunjuk pada pemilik taman tersebut.

LETAK GEOGRAFI TAMAN EDENKitab Kejadian tidak memuat banyak informasi tentang taman itu sendiri. Di taman ini terdapat Pohon Kehidupan dan Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat, serta berlimpah tanaman lainnya yang dapat menjadi sumber makanan bagi Adam dan Hawa.
"Sebuah sungai mengalir keluar dari Eden untuk mengairi taman itu, dan di situ sungai itu bercabang menjadi empat sungai".
Teks ini menegaskan bahwa di dalam Taman itu sungai itu terbagi menjadi empat cabang: Tigris, Eufrat, Pison dan Gihon. Identitas kedua sungai yang terakhir telah menjadi bahan argumen yang tidak ada habisnya, tetapi bila Taman Eden memang benar-benar dekat sumber-sumber sungai Tigris dan Eufrat, maka pencerita asli di Tanah Kanaan mestinya telah mengidentifikasikan lokasinya di sekitar Pegunungan Taurus.
Dalam buku karya Isaac Asimov, Asimov's Guide to the Bible, ia membuat catatan bahwa kita harus "Memperhatikan bahwa bukan taman itu sendiri yang disebut Eden. Orang tidak dapat berbicara tentang 'Eden' seolah-olah kata itu sinonim dengan Taman tersebut, seperti halnya orang tidak dapat berbicara tentang 'California' seolah-olah kata itu sinonim dengan Taman Yosemite."

Lokasi alternatif
Bila lokasi dari para pencerita asli kisah ini diabaikan, maka telah ada sejumlah klaim tentang lokasi geografis sesungguhnya dari Taman Eden, meskipun tak satupun di antaranya ada hubungannya dengan Timur Tengah dekat Mesopotamia. Lokasi yang jauh hingga di Ethiopia, Jawa, Seychelles, Brabant, dan Bristol, Florida - semuanya telah diusulkan sebagai lokasi Taman ini. Banyak teolog Kristen percaya bahwa Taman ini tidak pernah ada di muka bumi, melainkan berada di dekat surga sehingga ia diidentikkan dengan Firdaus.
Yang lainnya menunjuk bahwa dunia pada masa Eden telah dihancurkan dalam banjir besar pada masa Nuh dan karena itu tidak mungkin untuk melokalisir Taman itu di manapun juga dalam geografi pasca-banjir. Ada pula usaha utnuk menghubungkannya dengan tanah mistis yang tenggelam di Atlantis. Sebuah lokasi favorit adalah Sundaland yang kini menjadi Laut Tiongkok Selatan. Dalam kasus ini, sungai Tigris dan Eufrat bukanlah sungai yang dirujuk dalam kisah ini, melainkan sungai-sungai yang di kemudian hari yang diberi nama sesuai dengan sungai-sungai yang telah ada sebelumnya, sama seperti pada masa modern ketika para kolonis menamai daerah baru mereka sesuai dengan ciri-ciri yang serupa di tanah asal mereka. Gagasan ini ini juga memecahkan masalah yang ada bahwa Alkitab menggambarkan sungai-sungai itu mempunyai sumber yang sama, sementara sungai-sungai Tigris dan Eufrat yang sekarang tidak memilikinya.
Sebuah klaim mutakhir oleh arkeolog David Rohl menempatkan taman ini di timur laut Iran. Menurutnya, Taman ini adalah sebuah lembah sungai di sebelah timur Gunung Sahand, dekat Tabriz. Ia mengutip sejumlah kesamaan geologis dengan deskripsi Alkitab dan berbagai paralel linguistik sebagai buktinya.

Dilmun
Beberapa sejarahwan yang bekerja di dalam lingkup cakrawala budaya Sumeria paling selatan, di mana terdapat sumber paling awal yang masih ada tentang legenda ini, menunjuk kepada sebuah pusat perdagangan dari Zaman Perunggu di pulau Dilmun (kini Bahrain) di Teluk Persia, menggambarkannya sebagai 'tempat terbitnya matahari' dan 'Negeri Orang-orang yang Hidup'. Setting mitos penciptaan Sumeria, Enûma Elish, jelas mempunyai kesejajaran dengan kisah-kisan Kejadian. Setelah kemerosotannya, dimulai paa sekitar 1500 SM, Dilmun mengembangkan reputasinya sebagai sebuah taman kesempurnaan eksotis yang telah lama lenyap, dan hal ini tampaknya telah memengaruhi cerita Taman Eden. Dalam proses kebalikannya, para penafsir yang berpikiran harafiah kadang-kadang telah berusaha menciptakan sebuah taman yang mirip Eden di pusat perdagangan di Dilmun.

Sumeria
Orang-orang Sumeria pertama hidup di dataran yang kini dikenal sebagai Irak selatan. Kata bahasa Sumeria untuk dataran adalah "edin", dan kemungkinan sekali nama "Eden" berasal dari kata ini.

Etimologi
Istilah "Eden" dalam bahasa Ibrani kemungkinan berasal dari kata bahasa Akkadia edinu yang diambil dari kata bahasa Sumeria E.DIN.

EDEN DALAM SENI
Motif-motif Taman Eden yang paling sering digambarkan dalam manuskrip iluminasi dan lukisan-lukisan "Tidurnya Adam" ("Penciptaan Hawa"), "Pencobaan atas Hawa" oleh Si Ular, "Kejatuhan Manusia" yaitu ketika Adam menerima buah itu, dan "Pengusiran". Gambaran tentang "Hari Pemberian Nama di Eden" lebih jarang dilukiskan. Banyak dari kisah Milton Firdaus yang Hilang terjadi di Taman Eden.

Sebuah keraguan terhadap ditemukannya Taman Eden secara geografis di Bumi :
1. Bahwa bentuk permukaan bumi ( Relief bumi ) setiap saat dan setiap waktu selalu berubah. Hal ini terjadi karena gerakan dari larva di bawah kerak / kulit bumi. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan perubahan seperti yang dimaksud.
2. Peristiwa Air Bah pada jaman Nabi Nuh yang meluluh lantakkan semua permukaan bumi dengan air. Jika tersebut berlangsung secara alami maka kemungkinan besar taman eden juga musnah. Andaikata tidak musnah maka bersamaan dengan meluap dan menyusutnya air maka akan mempengaruhi relief permukaan bumi. Bentuk permukaan bumi sebelum dan sesudah air Bah pasti berubah.
3. Terkait dengan nama sungai besar Tigris - Efrat dan Pisonn di daerah sekitar mesopotamia kemungkinan besar adalah nama yang diberikan oleh keluarga Nabi Nuh. Dan pada kenyataannya biasanya pemberian nama berdasarkan pengalaman hidup si pemberi nama; dan ada kemungkinan sungai tersebut bukan sungai yang dimaksud oleh penulis kitab Kejadian. Karena bisa jadi karena peroses meluap atau menyusutnya air bah akan membentuk sungai sungai baru, mengingat sifat air yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Dan jika daerah yang dilalui air ini sama akan membentuk goresan dan akhirnya ceruk ceruk dan menjadi sungai sungai baru.
Kisah penghukuman air bah di Kejadian 6 – 8 ; Penghukuman ini seharusnya dipahami sebagai semacam “penciptaan ulang” suatu bumi yang baru. Kejadian 6:13 mencatat “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk...Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi”. Setelah air bah surut, Allah membuat perjanjian bahwa “sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan lagi dengan air bah, dan tidak ada air bah lagi untuk memusnahkan bumi” (Kej 9:11). Karena Taman Eden berada di bumi yang lama (Kej 2:4-9), sangat wajar apabila kita menduga bahwa taman ini juga sirna bersamaan dengan pemusnahan bumi yang lama.

2. Pemahaman bahwa Taman Eden adalah sebuah Simbol Kesempurnaan
Dalam Perjanjian Lama kata yang berkaitan dengan ‘eden seringkali menyiratkan makna “kesenangan” atau “kesukaan” (2 Sam 1:24; Mzm 36:10; Yes 51:34). Dalam Kitab Kejadian sendiri makna ini juga dapat dijumpai (18:12, LAI:TB “akan berahikan aku”, lit. “apakah aku akan mendapatkan kesenangan”, KJV/RSV/NASB/NIV). Kita tidak bisa memastikan apakah makna umum dalam Alkitab ini berkaitan dengan asal-usul kata ‘eden yang sudah kita bahas di depan. Terlepas dari ketidakpastian ini, satu hal yang pasti benar adalah kata ‘eden menyiratkan tanah yang subur dan memberikan kesenangan.

Eden sebagai Firdaus
Istilah lain yang sering dipakai untuk Taman Eden adalah “Firdaus” (paradise). Sebutan ini berakar pada Septuaginta (LXX) yang menerjemahkan “Taman Eden” di 3:23 dengan paradeisos testryphes (lit. “taman kesenangan”). Kata paradeisos sendiri berasal dari kata Persia yang berarti “taman” atau “daerah yang tertutup” (Neh 2:8). Di kemudian hari para penulis Yahudi, baik penulis Alkitab maupun tulisan non-biblikal, memakai sebutan paradeisos untuk menggambarkan tempat yang sempurna dan menyenangkan bagi orang-orang benar (T. Levi 18:10-11; Luk 23:43; 2 Kor 12:4; Why 2:7; 22:1-2). Kecenderungan ini sangat mungkin berhubungan dengan para nabi yang menggunakan keindahan Taman Eden sebagai gambaran keselamatan eskhatologis yang akan dilakukan Allah bagi umat-Nya (Yes 51:3; Yeh 36:35; Yl 2:3).
Kata firdaus yang dijadikan sinonim oleh orang Kristen dengan Taman Eden adalah sebuah kata Persia, yang menjelaskan sebuah taman buah-buahan yang bertembok atau sebuah taman berburu tertutup. Kata ini muncul tiga kali dalam Perjanjian Lama, jelas tidak dalam hubungan dengan Eden: dalam Kidung Agung 4:13; Kitab Pengkhotbah 3:5; Nehemia 2:8.

Dalam Islam Taman Eden disebut Surga 'Adnin atau Jannatul 'Adnin
Dalam perkembangan selanjutnya, kata paradeisos sering dipakai secara figuratif dalam konteks eskhatologis ( berhubungan dengan akhir jaman atau kekekalan ). Kata ini muncul di Yesaya 51:3, Yehezkiel 28:13 dan 31:8 sebagai rujukan pada situasi baru ketika Tuhan memulihkan Sion. Dalam tulisan-tulisan Yahudi, paradeisos dipakai untuk tempat tinggal sementara dari orang-orang kudus yang telah meninggal. Penggunaan paradeisos dalam konteks eskhatologis ini selanjutnya juga muncul di Perjanjian Baru (Luk 23:43; 2Kor 12:4; Why 2:7), walaupun konsep yang diajarkan sedikit berbeda dengan ajaran Yahudi tentang paradeisos.

Penyamaan Taman Firdaus dengan Taman Eden mungkin didasarkan pada pemunculan kata paradeisos di Wahyu 2:7. Beberapa versi memang menerjemahkan paradeisos qeou di ayat ini dengan “Taman Firdaus Allah” ( LAI:TB ) atau “Firdaus Allah” ( ASV, NASB, BBE ). Terjemahan ini sebenarnya merupakan tafsiran penerjemah terhadap kata paradeisos. Secara hurufiah, paradeisos qeou seharusnya diterjemahkan “taman Allah”, bukan “[Taman] Firdaus
Allah”, karena paradeisos memang berarti “taman”. Selain itu, frase paradeisos qeou juga muncul di LXX dengan arti “taman Allah” ( Gen 13:10; Yeh. 28:13; 31:9 ).

Apa yang dapat kita simpulkan dari penyelidikan kata paradeisos ini? Pertama, kata ini sebenarnya hanya berarti “taman” dan bisa dipakai untuk taman apa saja. Kedua, Taman Eden seringkali disebut dengan istilah paradeisos qeou (“ taman Allah ”) untuk menggambarkan suatu tempat yang begitu indah yang disediakan Allah, sehingga kata paradeisos ( tanpa qeou ) selalu diidentikkan dengan Taman Eden. Ketiga, kata paradeisos selanjutnya dipakai dalam konteks eskhatologis yang merujuk pada tempat tinggal sementara orang-orang benar yang sudah meninggal atau surga itu sendiri
Kamus Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia[2] menulis, firdaus adalah keadaan semula dimana Allah langsung hadir pada manusia (Kej 2-3). Dalam perjanjian baru, firdaus dipakai sebagai nama lain (bahasa Persia) untuk Surga, tempat kemuliaan orang-orang yang telah meninggal (Luk 23:43, II Kor 12:14, Why 2:7). Sedangkan kamus bahasa Inggris Indonesia – Indonesia Inggris[3], Firdaus diartikan paradise (dalam bahasa Inggris), sebaliknya Paradise diartikan Sorga dan Cendrawasih. Sorga adalah tempat kemuliaan orang-orang beriman dan burung Cendrawasih adalah salah satu jenis burung yang hanya terdapat di Papua.
Taman Eden bukan tepat tinggal Allah, melainkan hanya tempat pertemuan antara Allah dan manusia. Yehezkiel 28 : 13 menyebutkan bahwa taman Eden adalah taman Allah yang ditaburi dengan aneka permata yang berharga, dan da-lam Yesaya 51: 3 pun disebutkan bahwa taman Eden senantiasa dipenuhi kegirangan dan kesukacitaan.

Sebagian orang juga berpendapat bahwa di taman eden segala sesuatu kebutuhan manusia ada, bahkan air sungai yang mengandung susu dan madu yang melimpah; setiap kali kita memetik buah dari taman eden maka buah lain langsung tumbuh ditempat kita memetiknya.. Dengan membayangkan saja kita langsung berandai andai dan gambaran positif yang muncul adalah sebuah tempat yang penuh dengan kesenagan dan kegembiraan; disana hanya ada suka tidak ada kesedihan dan tidak ada air mata. Membayangkan saja sudah membuat air liur menetes; Taman Eden adalah sebuah tempat yang menjadi dambaaan semua orang. Lalu muncul pertanyaan jika semua manusia berada di taman eden kira kira apa yang dilakukan oleh manusia ? mungkin 100 % manusia hanya duduk - duduk dan tiduran saja atau dengan kata lain mereka bermalas malasan karena semua kebutuhan mereka terpenuhi.

3. Pemahaman yang menggabungkan Taman Eden berada di suatu tempat di bumi dan juga memberikan simbul kesempurnaan hubungan antara Allah dan manusia
Pernahkan terpikirkan oleh kita bahwa segala mahluk hidup ciptaan Tuhan diciptakan dengan sangat sempurna; Tuhan menciptakan manusia menurut gambar Allah sendiri ( Kejadian 1 : 27 ). Apa tidak ada yang berfikir bahwa dengan mengamati organ organ tubuh manusia kita dapat mengerti maksud dari Alkitab, khususnya terkait dengan pembahasan kita kali ini yaitu mengenai Taman Eden.
Kami mengajak para pembaca sekalian untuk mengamati sirkulasi darah beberapa mahluk ciptanaan Tuhan - terkhusus pada sistem peredaran darah pada manusia. Mengapa kami mengajak anda untuk mengamati sistem peredaran darah ? hal ini karena kami memandang bahwa gambaran sungai seperti yang dimaksud dalam Alkitab terkhusus pada pemahaman mengenai Taman Eden sangat mirip dengan aliran darah. Aliran darah yang mengalir ke seluruh bagian tubuh dan melalui organ organ tubuh yang ada. Jadi menurut kami sudah wajar jika dengan mengamati sistem peredaran darah mahluk ciptaan Tuhan maka kita bisa menemukan gambaran mengenai Taman Eden.

Untuk lebih jelasnya dibawah ini kami memberikan beberapa gambar sirkulasi darah dari beberapa mahluk
  
Sirkulasi darah pada manusia        





Sirkulasi darah manusia



Setelah anda mengamati sistem peredaran darah mahluk ciptaan Tuhan seperti terpapar di atas maka apa yang dapat anda simpulkan ? tentu saja kesimpulannya yang berhubungan dengan tema artikel ini yaitu apakah ada hubungan antara sirkulasi darah beberapa mahluk dengan apa yang dimaksud dengan Taman Eden. Silahkan perhatikan sekali lagi dan lebih fokus pada aliran darah di jantung.
Ada suatu sungai yang mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang. (Kejadian 2:10). Menurut Lucas Sayogo ( themessenger.web.id) terjemahan yang lebih tepat untuk ‘4 cabang‘ adalah ‘4 hulu sungai’. Kata Ibraninya, RASYIM = Jamak dari " ROSY ". Kata ROSY artinya kepala, puncak, permulaan atau awal, dan karenanya dalam bahasa Inggris dikatakan bahwa sungai itu terbagi menjadi empat riverheads atau headwaters.

Dengan mengamati Siklus Peredaran Darah tersebut diatas apakah kita bisa memberikan gambaran yang berbeda dengan pemahaman para ahli terkait dengan pemahaman Taman Eden ? Apakah pemahaman anda tersebut sama dengan pemahaman kami !!!
Kami mengamati bahwa sesungguhnya ada kemiripan cerita mengenai Taman Eden dengan sistem Sirkulasi Darah beberapa mahluk hidup. Secara garis besar pada bagian jantung terdapat 4 cabang. Dimana 2 cabangnya mengarah ke kepala dan yang lainnya menuju ke seluruh bagian tubuh mengaliri organ organ tubuh.

Di Kejadian 2 : 9 disebutkan bahwa pohon kehidupan terletak di tengah taman, sedangkan posisi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat tidak diberi keterangan apapun. Dari Kejadaian 3:3 kita dapat mengetahui bahwa pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat juga terletak di tengah taman. Kata “di tengah” (be tôk) tidak berarti bahwa pohon ini terletak persis di pusat taman (bdk. Kej 1:6; Kej 3:8; Kej 9:21; Kej 18:24, Kej 26; 23:10 ). Beberapa penafsir berspekulasi bahwa letak dua pohon tersebut adalah berdekatan.
Terkait penjelasan tersebut diatas silahkan ada amati organ jantung, terkhusus organ jantung manusia. Pada organ Jantung manusia terdapat 2 bagian ( pada gambar digambarkan dengan 2 warna yaitu warna biru dan warna merah ) yaitu bilik kiri dan bilik kanan. Bilik kanan yang digambarkan dengan warna merah darah yang banyak mengandung O2 ( Oksigen ) sedangkan bilik kiri ( warna biru ) membawa Co2 ( Karbon dioksida ). Letak jantung berada di tengah tengah tubuh ( walaupun tidak persis berada di tengah tengah ).
Kedua bagian jantung tersebut ( bilik kiri dan bilik kanan ) berdampingan. Bilik kiri ( warna biru ) membawa CO2 yang merupakan racun bagi tubuh sedangkan bilik kanan ( warna merah ) membawa dan mengirimkan O2 yang memberikan kehidupan bagi organ organ tubuh.
Berdasarkan konteks yang ada, dua jenis pohon ini sama-sama memegang peranan penting dalam Kejadian 2-3. Pohon kehidupan muncul di awal dan akhir kisah manusia di Taman Eden (2:9; 3:22, 24). Pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat muncul beberapa kali di bagian sentral (2:9, 17; 3:3). Pohon ini bahkan menjadi perhatian sentral dalam cerita, walaupun sebutan eksplisit “pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” tidak muncul ( 3 : 6, 11, 12, 17).

Penjelasan tersebut diatas menjelaskan bagaimana fungsi dari organ jantung ( bilik kiri dan bilik kanan ), bilik kiri membawa CO2 yang merupakan racun dan bilik kanan mengalirkan O2 ke organ organ lainnya yang memberikan kehidupan bagi organ organ tubuh lainnya. Kalau boleh kami simpulkan sementara kami kaitkan penjelasan mengenai pohon kehidupan dan pohon pengetahuan baik dan yang jahat dengan bilik kanan dan bilik kiri pada organ jantung manusia.
Pohon kehidupan sangat kontras dengan pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Pohon ini hanya muncul di Kejadian 2-3. Di luar kisah ini tidak ada rujukan sama sekali. Sebagaimana Allah menentukan bahwa pohon kehidupan dapat menghasilkan kehidupan, demikian pula pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat dapat memberikan pengertian kepada yang memakannya (Kej 3:5, 22). Di sisi lain, memakan buah ini berarti mengalami kematian ( Kej 2 : 17 ). Yang menarik dari konsep ini adalah bahwa memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat (berakibat kematian) ternyata melampaui tindakan manusia memakan buah pohon kehidupan. Dengan kata lain, arah hidup manusia lebih ditentukan oleh apa yang mereka lakukan terhadap pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat daripada pohon kehidupan.

Mengaitkan penjelasan diatas ada benarnya jika kita memperhatikan organ jantung manusia. Jika pembuluh balik yang membawa CO2 dari tubuh terserap kembali maka bisa dipastikan orang tersebut keracunan dan jika berlanjut akan membawa kematian. Hal ini cocok sekali dengan Kej 2 : 17 ).
Pohon kehidupan menghasilkan kehidupan ! uraian ini kami kaitkan dengan sirkulasi pembuluh Vena manusia yang membawa dan mendistribusikan O2 ke seluruh organ organ tubuh. Darah yang mengandung O2 akan memberikan kehidupan bagi organ organ tubuh lainnya.
Keingintahuan yang besar untuk memastikan posisi konkrit Taman Eden seringkali membuat banyak orang mengabaikan penekanan lain yang ada di Kej 2:10-14. Mereka terjebak pada kebiasaan memahami semua keterangan di Kej 2:10-14 hanya dalam kaitan dengan penelusuran posisi geografis tersebut. Kecenderungan ini jelas sangat disayangkan, karena tujuan utama Alkitab bukan menyediakan peta geografis untuk sebuah penelusuran, namun mengajarkan nilai teologis.

Para ahli arkeologi maupun theologi hendaknya jangan terfokus untuk mencari keberadaan dan posisi goegrafis dari taman eden sehingga melupakan maksud - arti serta pengertian yang disampaikan dalam Alkitab. Bahwa banyak sekali kemungkinan kemungkinan jika kita menjabarkan pemahaman mengenai Taman Eden. Seperti yang sudah kami utarakan diatas ternyata pemahaman mengenai Taman Eden juga dapat kita temukan dalam Sistem Sirkulasi Darah mahluk hidup terkhusus Sirkulasi Darah manusia.
Pengertian mengenai taman eden ternyata juga dapat kita temukan dalam diri manusia itu sendiri yaitu dalam Sirkulasi Darah mahluk hidup. Taman Eden seperti Sirkulasi Darah sedangkan Pohon Kehidupan dan Pohon Pengetahuan Yang Baik dan Yang Jahat seperti Organ jantung. Jika kita hanya memahami Alkitab secara harafiah maka maksud dan tujuan ada Alkitab tidak tercapai. Alkitab ada agar menusia mengetahui dan mengerti akan kehendak Tuhan - mengetahui mana yang baik dan mana yang jahat dimata Tuhan sehingga manusia dapat mengerti dan bersedia untuk sadar akan kuasa Tuhan dan akhirnya manusia menjadi percaya dan beriman. Alkitab mengajarkan tidak hanya sampai di situ saja tetapi setelah manusia percaya dan beriman apa yang harus dilakukan ? yaitu taat kepada larangan dan menjalankan perintah perintah Tuhan.

Setelah kita mengetahui bahwa ternyata Taman Eden ternyata juga dapat kita temukan di dalam diri manusia maka bagaimana kelanjutannya ? apa hanya sekedar tahu kemudian mengabaikan begitu saja ! tentu tidak.
Manusia menggambarkan bahwa Taman Eden adalah taman yang penuh dengan kesukacitaan dan kebahagiaan; tempat pertemuan antara Allah dan manusia. Sebenarnya inti dari ajaran mengenai Tuhan adalah bagaimana kita bisa menghadirkan dan mengundang Tuhan untuk senantiasa hadir dan tinggal di dalam diri kita. Bagaimana caranya ? seperti postingan kami sebelumnya kami telah menjelaskan bahwa awal mula ada di hati manusia. Pada hati terdapat 2 sekat yang menggambarkan mengenai hal yang baik dan hal yang jahat - positif dan negatif - suka dan duka - gembira dan sedih - hitam dan putih - ya dan tidak - setuju dan menolak - benci dan sayang - benar dan salah - langit dan bumi - Ying dan Yang - surga dan neraka dan lain lain yang menggambarkan dua hal yang berbeda. Pada hati bisa timbul kedamaian dan juga kehancuran - pada hati dapat timbul kegembiraan dan kesedihan; pada hati dapat timbul kebahagiaan dan keserakahan. Kalau boleh kami gambarkan jika seluruh bumi kita masukkan kedalam hati maka didalam hati yang besarhanya hanya sekepal masih terdapat rongga. Dan andaikata seluruh alam semesta dimasukkan kedalam hati juga masih terdapat rongga didalamnya. Lalu bagaimana supaya hati kita penuh dan tidak terdapat rongga lagi ? caranya adalah undanglah Tuhan untuk tinggal dan bersemayam dalam hati kita. Dan jika Tuhan berkenan untuk hadir kedalam hati maka sekat sekat di hati menjadi hilang seluruh ruang hati akan terpenuhi oleh kuasa dan kemuliaan Tuhan. Tidak ada lagi positif dan negatif - tidak ada lagi ya dan tidak - tidak ada lagi ying dan yang dan tidak ada lagi surga atau neraka yang ada hanya Tuhan .... Tuhan dan Tuhan. Alkitab hanya mengajarkan inkarnasi (Allah menjadi manusia), bukan apotheosis (manusia menjadi Allah).
Semoga artikel ini bermanfa
Print Friendly and PDF
Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: Taman Eden - Dimana engkau kini !
Ditulis Oleh Sky Geth
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih

Peraturan Berkomentar Di Blog Ini !

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang sopan, santun, baik.
- Dilarang keras komentar Sara,Pornografi,Kekerasan,Pelecehan.
- Berkomentarlah yang berhubungan dengan topik ( no OOT)
Terima Kasih

Berlanganan