Sunday, April 3, 2016

ASAL USUL KATA "TUHAN"

Kata “TUHAN atau TUAN“dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI)memiliki makna sbb: 1. Tempat mengabdi (dimuliakan/diagungkan) 2. Penguasa atau Berkuasa 3.Sang Pemberi/Sumber pemberi 4. Oknum yang layak dihormati. Pernahkah terpikir di antara kita darimana sebenarnya asal-usul kata “Tuhan”? Penjelasan pembentukan dan perubahan kata ‘tuan’ menjadi kata ‘tuhan’ dapat kita simak dalam artikel yang disampaikan oleh Remy Sylado seorang ahli bahasa. Artikel tersebut berjudul “Bapa Jadi Bapak, Tuan Jadi Tuhan, Bangsa Jadi Bangsat” dan ditulis di kompas.com yang sayangnya sekarang datanya tidak dapat diakses lagi.SATU ejaan baku yang pernah dikenal di masa lampau, selama berabad-abad, untuk perkataan yang sepadan dengan ayah, adalah bapa, bukan bapak. Di bawah nanti kita akan melihat terjadinya perubahan harafiah dari bapa menjadi bapak, yang kemudian berkembang menjadi dua entri yang sama-sama terpakai, masing-masing bertalian dengan tradisi yang melahirkan semacam truisme yang khas disertai rasa percaya, yang membuatnya terbatas di satu pihak, dan tradisi yang berkembang dan membuatnya berubah dan menjadi leluasa di lain pihak. Apa yang dicatat oleh kamus resmi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen P&K, atas dua kata tersebut, memang tidak jumpai dalam kamus standar sebelumnya Kamus Umum Bahasa Indonesia oleh WJS Poerwadarminta.Dalam kamus Poerwadarminta itu kita hanya membaca satu soal yaitu: bapa(k). Ini artinya, kata ini bisa dibaca bapa, bisa juga bapak. Huruf ‘k’ di situ, sesuai dengan ejaan Suwandi, dimaksudkan sebagai ganti tanda (‘). Sebelum kita memeriksa lebih rinci mengenai hal itu, coba kita perhatikan terlebih dulu soal bagaimana kamus ini memberi deskripsi akan kedua kata tersebut: "bapa, orang laki-laki yang dipandang sebagai orang tua…bapak," 1 orang tua laki-laki, ayah; 2 orang laki-laki yang dalam pertalian kekeluargaan boleh dianggap sama dengan ayah; 3 orang yang dipandang sebagai orang tua atau orang yang dihormati; 4 panggilan kepada orang laki-laki yang lebih tua dari yang memanggil; 5 orang yang menjadi pelindung; 6 pejabat… Khusus menyangkut kata bapa, dapat dilihat dengan hubungan tradisi bahasa tulis yang berpangkal pada masa di mana perkataan ini pertama kali muncul dalam pustaka bahasa Indonesia beraksara Latin. Pustaka pertama Indonesia yang beraksara Latin muncul di sini setelah bangsa-bangsa Eropah menjajah Indonesia. Salah satu buku penting dari kepustakaan lama yang didalamnya ditemukan kata"Bapa" dengan pengertian yang khas, pertalian yang unik, dan penghayatan yang istimewa bagi pemakainya, adalah terjemahan Alkitab kerdalam bahasa Melayu. Penerjemahan Alkitab kedalam bahasa Melayu merupakan buku-buku awal bahasa Indonesia dengan huruf Latin yang dikerjakan oleh orang-orang Belanda sejak tahun 1629-(hampir seratus tahun setelah sekolah pertama di Indonesia dengan sistem pendidikan dan pengajaran Eropah didirikan di Ambon oleh Portugis sampai abad ke-20. Adalah Kamus Umum Bahasa Indonesia oleh JS Badudu (yang bertolak dari kamus Sutan Mohammad Zain).Ditemukan kata bapa dan bapak dalam deskripsi yang memperjelas hakikatnya masing-masing. Pada entri bapa, keterangan yang lazim digunakan Alkitab, yaitu Allah Bapa.Pertalian antara bapa dan Allah dalam Alkitab sebagai buku awal kepustakaan Indonesia beraksara Latin itu, adalah dari perikop Matius 6, yaitu tentang doa yang diajarkan Yesus yaitu doa “Bapa kami yang di sorga." Dalam terjemahan-terjemahan bahasa Barat dari mana terjemahan Indonesia berangkat, kalimat ini berbunyi, Belanda: “Onze Vader, Die in de hemelen zijt. Uw Naam worde geheiligd”; Inggris: “Our Father which art in heaven, hallowed be thy name”; Perancis: “Notre Pére qui es aux cieux. Que ton nom soit sanctifié”; Portugis: “Pai nosso que estás nos céus, santificado seja o teu nome.” Contoh terjemahan-terjemahan bahasa Eropa, yang bersumber dari teks asli bahasa Yunani,tidak ada perbedaan antara vader-father-pére-pai bagi God-God-Dieu-Deus dan bagi mens-man-homme-homem.Tidak seperti dalam bahasa Indonesia yang membedakan Bapa bagi Allah, dan Bapak bagi manusia. Mungkin di situlah kelebihan bahasa Indonesia. Sutan Mohammad Zain dalam kamusnya mengaku, memasukkan pelbagai kata dari kepustakaan lama untuk bahan studi bidang sastra, dari kamus yang standar dan terpakai sampai menjelang penyerahan kedaulatan RI, yaitu kamus bahasa Melayu karya HC Klinkert. Dalam daftar pustaka acuan dari kamus bahasa Indonesia yang diselia Anton M Moeliono itu juga berisi dua kamus karya HC Klinkert tersebut, yaitu Nieuw Maleisch-Nederlandsch Woordenboek dan Nieuw Nederlandsch-Maleisch Woordenboek. Nama Klinkert sendiri pada abad ke-19 dikenal sebagai penerjemah Alkitab bahasa Melayu yang terbaik. Terjemahan Alkitabnya dalam bahasa Melayu diterbitkan pada tahun 1863, menyangkut kata Bapa dari perikop Matius 6 tersebut, bahkan masih diajarkan oleh orang-orang tua di Minahasa sampai tahun 1970-an. Terjemahan Klinkert untuk ayat ini adalah, (sesuai yang tercetak), “Bapa kami jang ada disorga, dipermoeliakanlah kiranja Namamoe.” Awal mula Klinkert menerjemahkan injil karena melihat terjemahan yang sudah ada sebelumnya, yang telah dibuat atas titah pemerintahan kolonial, oleh Melchior Leijdecker, sulit dipahami oleh pemakai bahasa Melayu umum, yaitu Melayu yang digunakan di pasar-pasar. Terjemahan yang terbit tahun 1733, dianggap sangat sulit, karena terlalu banyaknya kata serapan Arab dan Persia di luar Sansekerta yang dipakainya, dan tidak dipahami oleh khalayak biasa yang tidak berpengalaman membaca sastra Melayu beraksara Arab gundul. Alkitab terjemahan Leijdecker itu adalah “Alkitab Perdjandjian Lama dan Baru atas permintaan pemerintahan belanda ditanah air.Untuk perikop tentang doa yang menyangkut kata Bapa tersebut. dalam terjemahan Leijdecker adalah. “Bapa kamij jang ada disawrga, namamu dipersutjikanlah kiranja.” Beberapa terjemahan Alkitab kedalam bahasa Melayu yang sekaligus merupakan tonggak dari buku buku berbahasa Indonesia awal bertuliskan huruf Latin, adalah terjemahan Alkitab yang dikerjakan oleh Albert Cornelisz Ruyl pada tahun 1629, dicetak di Enkhuizen, Belanda: serta terjemahan Daniel Brouwerius pada tahun 1668, dicetak di Amsterdam, Belanda. Dalam terjemahan Ruyl dan Brouwerius, kata yang dimaksud di atas, dieja dobel ‘p’, yaitu Bappa. Pada terjemahan Ruyl kalimatnya adalah “Bappa kita yang berdudok kadalam surga, bermumin menjadi akan namma-mu”;.Sedangkan pada terjemahan Brouwerius kalimatnya adalah “Bappa cami, jang adda de Surga. Namma-mou jadi bersacti.” Untuk melihat lebih persis bagaimana kata bapa atau bapak, ditulis dengan cara Melayu lama yang awalnya menggunakan huruf Arab gundul dapat dilihat pada perikop yang sama didalam terjemahan yang dikerjakan oleh William Girdlestone Shellebear.Seorang perwira tinggi yang bertugas di Singapura pada tahun 1886. Sebagai komandan dari pasukan laskar Melayu, Shellebear belajar bahasa Melayu dari seorang munsyi terpandang, Datuk Dalam Johar, anak didik langsung dari Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Untuk kata yang sepadan dengan "ayah" yang dimaksud, dapat disimak dalam terjemahannya dengan huruf Arab gundul, yang dilatinkan di sini, ejaannya menjadi, “ya bapa kami yang disurga, terhormatlah kiranya namamu.” Jika kita simak teks ini dalam huruf Arab gundul sesuai yang ditulis oleh Shellebear, maka kata bapa itu adalah ( ), bukan (), atau (), sebagaimana yang berkembang di Indonesia. Jika kita memeriksa kamus bahasa Malaysia, misalnya Kamus Harian karya Mohd. Salleh Daud dan Asmah Haji Omar (yang pernah dicetak di Indonesia atas izin Federal Publications, Selangor Malaysia), maka di sini pun kita hanya melihat satu yang baku dalam bahasa Malaysia, yaitu bapa. Tapi akhirnya memang harus dikatakan, bahwa menariknya bahasa Indonesia sebagai bahasa yang berkembang-yang antara lain dengan memindai kata bapa yang menjadi bapak dengan deskripsi beragam atas konteks ini-menunjukkan bahwa bahasa ini tidak sama lagi dengan bahasa Melayu yang digunakan di Malaysia. Serta merta yang hendak dipindai di atasnya adalah bagaimana tradisi yang tertera dalam perikop tersebut, yang awalnya dari pola patriarkhat semit, dalam hal ini Yahudi, melalui pewartaan yang inklusif dengan hellenisme, atau katakanlah Yunani,kata aslinya adalah pater, dalam bahasa Indonesia menjadi bapa dan kemudian bapak sebagai suatu perkataan dengan kandungan figuratif dan literal atas sosok seorang ayah.Kemudian kata ini berkembang menjadi banyak ragam makna mencakup kaitannya dengan sosiologis dan hubungannya dengan politik. Dalam bahasa Yunani, dari mana Alkitab pertama-tama ditulis, tidak ada beda antara pater untuk Theos (Allah), dan pater untuk anthropos (manusia), sebagaimana halnya juga terjemahan-terjemahan Alkitab. Beberapa istilah yang berlatar pada perubahan tatanan karena pelaku-pelaku politik yang menjadi aneh antaranya karena kehilangan hatinurani, menjalar ke dalam perilaku para birokrat disegala urusan. Istilah yang pernah dimasyhurkan oleh Mochtar Lubis pada orasinya adalah ABS (asal bapak senang), berlanjut dengan istilah lain antara bapakisme dan ABG (anak bapak gua), yang semuanya dihubungkan dengan kelakuan-kelakuan norak, korupsi: maling duit negara buat foya-foya dengan bini muda. Frasa bahasa orang Indonesia, yang awalnya ditemukan dalam bahasa tulisan Melayu berhuruf Latin, yaitu frasa "Tuan" dan "Tuhan"yang kemudian dipahami dari sudut theologi Kristen, menyangkut substansi ilahi dalam insani Pemakai bahasa Indonesia semuanya mengerti bahwa perkataan Tuan sifatnya insani, dan perkataan Tuhan sifatnya ilahi. Artinya, tuan diterangkan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan beberapa catatan, antara lain: tempat mengabdi, memberi pekerjaan, laki-laki yang patut dihormati. Keterangan pertama tentang kata"Tuhan" dapat dilihat pada Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ. Keterangannya,“arti kata ‘Tuhan’ ada hubungannya dengan kata Melayu ‘tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik.” Ensiklopedia ini pertama terbit pada tahun 1976. Keterangan tersebut masih diulas dalam ensiklopedianya yang lebih paripurna, terdiri dari lima jilid, terbit pada tahun 1991, yaitu Ensiklopedi Gereja. Melihat keterangan itu, dan melihat pula pemakaian kata Tuhan merupakan sesuatu yang umum dalam agama Kristen.Istilah Tuhan yang berasal dari kata Tuan, pertama hadir dalam peta kepustakaan Melayu beraksara Latin lewat terjemahan Alkitab kedalam bahasa melayu. Perkataan ini dimaksudkan untuk mewakili sifat-sifat omnipresensi atas kata bahasa Yunani, Kyrios, dengan kaitannya pada tradisi Ibrani untuk kata Adon, Adonai, dengan aktualitas sebagai raja dalam kata Yahweh. Dalam kitab pertama, Perjanjian Lama yang aslinya berbahasa Ibrani, untuk kata-kata Adonai dan Yahweh semua diterjemahkan menjadi Tuhan, sementara dalam kitab kedua, Perjanjian Baru, untuk kata Kyrios juga diterjemahkan menjadi Tuhan. Dalam kitab Melayu beraksara Latin terjemahan Brouwerius yang muncul pada tahun 1668, untuk kata yang dalam bahasa Yunaninya, Kyrios, dan sebutan ini diperuntukkan bagi Isa Almasih, diterjemahkannya menjadi tuan. Coba periksa dalam buku kelima Perjanjian Baru, dari bagian surat injil Paulus kepada umat di Roma. Baca surat Roma 1:1-4, yaitu, “Paulo Jesu Christo pounja hamba, Apostolo bapangil, bertsjerei pada Deos pounja Evangelio, (Nang dia daulou souda djandji derri Nabbi Nabbinja, dalam Sagrada Scriptoura). Derri Annanja lacki lacki (jang souda berjadi derri bidji David dalam daging: Jang dengan coassa souda caliatan jang Annac Deos, dalam Spirito yang bersaksiakan carna bangon derri matti) artinya Jesu Christon Tuan cami.” Berhubung terjemahan Brouwerius ini dianggap sulit, antara lain banyaknya serapan kata bahasa Portugis, dan karenanya hanya mudah dipakai di kalangan komunitas bekas-bekas jajahan Portugis, maka timbul gagasan untuk menerjemahkan kembali seluruh bagian Alkitab: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan bahasa Melayu yang benar-benar lebih mendekati makna. Tugas itu diserahkan kepada Melchior Leijdecker, pendeta tentara yang berlatar belakang pendidikan kedokteran. Melalui terjemahan Leijdecker-lah kita menemukan perubahan harafiah dari Tuan menjadi Tuhan. Jelas yang tadinya oleh Brouwerius diterjemahkan Tuan-sama dengan bahasa Portugis Senhor, Perancis Seigneur, Inggris Lord, Belanda Heere-melalui Leijdecker berubah menjadi Tuhan. Nanti pada abad-abad berikut, sepanjang 200 tahun, penerjemah Alkitab bahasa Melayu melanjutkan penemuan Leijdecker tersebut. Apa yang dilakukan Leijdecker, mengapa Tuan menjadi Tuhan, merupakan masalah khas bahasa Indonesia. Hadirnya huruf ‘h’ dalam beberapa kata bahasa Indonesia, seperti ‘asut’ menjadi ‘hasut’, ‘utang’ menjadi ‘hutang’, ‘empas’ menjadi ‘hempas’, ‘silakan’ menjadi ‘silakan’, agaknya seiring dengan kasus nominatif dan singularis dalam tatabahasa Sansekerta ke Kawi dan Jawa. Misalnya tertulis ‘hana’ dibaca ‘ono’, ‘hapa’ dibaca ‘opo’. Di samping itu gagasan Leijdecker mengeja Tuhan untuk mengiring lafaz palatal ‘n’ dengan tepat. Banyak orang yang baru belajar Melayu, bekas orang Portugis asal Goa, terpengaruh Portugis, melafaz ‘n’ menjadi ‘ng’. Juga di Ambon,Tuan dibaca Tuang. Bahkan setelah Leijdecker mengeja Tuhan pun, orang Ambon tetap membacanya Tuang, sampai sekarang. Maka, di Ambon Tuang Ala berarti Tuhan Allah. Selain itu orang Ambon menyebut Allah Bapa sebagai Tete Manis, harafiahnya berarti ‘kakek yang baik’. Sudah tentu terjemahan Leijdecker itu tidak mudah dipahami oleh pembaca awam. Karenanya, di abad berikut, di zaman penjajahan Inggris, timbul gagasan untuk merevisi terjemahan Leijdecker tersebut. Robert Hutchings, pastor gereja Anglikan, menghitung sekitar 10.000 kata yang diacu Leijdecker itu tidak ditemukan dalam kamus Melayu karya William Marsden standar baru. Terjemahan revisi ini terbit pada tahun 1817, dicetak di Serampura, India. Sebelum itu, dua tahun setelah Gubernur Jenderal Inggris Raffles, menggantikan kedudukan Gubernur Jenderal Belanda Janssens, telah datang seorang zending dari lembaga London Missionary Society, yaitu William Milne, ke Malaka menemui Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, meminta bantuannya untuk merevisi terjemahan Leijdecker. Lalu, bersama Claudius Thomsen, mereka mengerjakan revisi atas terjemahan Leijdecker tersebut. Abdullah bin Abdulkadir Munsyi merasa terganjal khususnya pada sebutan ‘bapa’ kepada Allah, dan ‘anak Allah’ kepada Isa Almasih. Memang, perkataan itu dipahami pihak sebagai acuan teologis, bukan antropologis, untuk mengaktualkan hakikat masyiah dari leluri Ibrani, yang berkonteks diurapi dan bangkit dari kematian. Setelah itu masih dilakukan lagi revisi-revisi terjemahan Melayu oleh pihak zending Inggris. Yang berikut dipimpin oleh Benjamin Keasberry, dan karyanya itu dibantu pula oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Revisi terjemahan ini terbit pada tahun 1852, dicetak di Singapura. Namun, di antara sekian banyak revisi yang dikerjakan sepanjang abad ke-19 sampai abad ke-20, bahkan sampai bahasa Melayu menjadi bahasa kebangsaan Indonesia, terlihat dengan jelas, bahwa lema yang digagas Leijdecker untuk menyebut Isa Almasih, Tuhan, terus terpakai. Penyusun kamus di abad ke-19 pun membakukannya sebagai lema tersendiri di luar Tuan. Terjemahan Alkitab yang dianggap tertib bahasa Melayunya adalah yang dikerjakan Klinkert. Ia membakukan Tuhan dalam kitab terjemahan menurut pengertian yang sama dengan bahasa sekarang. Klinkert menulis dua versi, yaitu edisi Melayu rendah, Wasijat Yang Baroe, terbit pada tahun 1875; dan edisi Melayu tinggi, Kitab oe’lkoedoes, terbit pada tahun 1879. Versi yang kedua ini merupakan kitab yang paling populer di Minahasa. Di Minahasalah tempat lahirnya gereja protestan yang berorientasi kebangsaan, lima tahun setelah Sumpah pemuda, yaitu KGPM.

Print Friendly and PDF
Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: ASAL USUL KATA "TUHAN"
Ditulis Oleh Sky Geth
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih

Peraturan Berkomentar Di Blog Ini !

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang sopan, santun, baik.
- Dilarang keras komentar Sara,Pornografi,Kekerasan,Pelecehan.
- Berkomentarlah yang berhubungan dengan topik ( no OOT)
Terima Kasih

Berlanganan