Saturday, May 21, 2016

Renungan Anda


Sebuah Perenungan utk mereka yang masih punya kesempatan....
Malam itu saya telepon Mama saya, mengajaknya makan malam dan nonton film berdua saja.
_"Bagaimana dgn istrimu ?_"
kata Mama ditelepon.
_"Saya pikir, pasti akan menyenangkan kalau kita se-kali2 keluar berdua saja,Mama.._"
_"Mama mau sekali,_"
jawabnya.
Keesokan harinya sepulang dari kantor saya kerumah Mama.
Mama berdandan rapih sekali, menata rambutnya di salon, memakai gaunnya yg terbaik.
Gaun yg dipakai pd pesta ulang tahun perkawinannya
ketika Papa masih hidup.
Kami pergi ke restoran yang agak mahal.
Suasananya cukup elegan dan menyenangkan.
Mama menggandeng lengan saya ketika memasuki ruangan, persis seperti First Lady.
Jalannya anggun.
Saya membacakan daftar menu karena Mama sudah tak bisa lagi membacanya walau dengan kaca mata tebal.
Ketika sedang membaca daftar itu, saya berhenti sejenak menengok ke Mama.
Dia sedang memandangi saya dgn senyum kasih... dan katanya:
_"Dulu, Mama yg membacakan kamu daftar menu ketika kau masih kecil._"
_"Sekarang Mama santai saja ya... giliran saya yg melayani Mama_," jawab saya.
Sambil makan, kami membincang kan banyak hal.
Tidak ada topik yg istimewa tapi obrolan mengalir saja sampai2 kami terlambat untuk menonton film.
Setelah selesai, aku mengantar Mama pulang.
Sesampai dimuka pintu Mama, berkata,
_"Mama mau pergi lagi dengan kamu, tapi lain kali Mama yang bayar ya._"
Saya setuju.
Sampai dirumah, Istriku sdh menunggu penuh harap, dan bertanya: _"Bagaimana pertemuanmu dng Mama?_"
tanya istri saya dirumah.
_"Sangat menyenangkan, lebih dari yg saya duga._
_Tadinya tidak tahu mau ngomong apa."_
Beberapa hari kemudian, saya dapat berita Mamaku meninggal dunia karena serangan jantung.
Begitu tiba2 kejadiannya.
Satu minggu berlalu, ada sepucuk surat, tiba dari restoran tempat Mama dan saya makan malam.
Surat itu dilampiri copy tanda lunas dibayar.
Ada selembar kertas diselipkan disitu, tertuliskan :
_"Mama sudah bayar makan malam kita, karena rasanya tak mungkin kita makan bersama lagi._
_Walaupun begitu Mama sudah bayarkan untuk dua orang,_ _barangkali untuk kau dan istrimu, anakku,_
_besar sekali arti undanganmu malam itu sangat berarti dan berkesan bagi Mama._
_Terima kasih banyak anakku"_
Pada detik itulah aku disadarkan betapa pentingnya kita menyisihkan waktu serta mengutarakan kepada orang2 yang kita sayangi mengenai perasaan sayang kita,
tentunya disertai dgn tindakan nyata.
Sisihkanlah waktu kita untuk mereka2 yang kita kasihi,
Selama mereka masih ada,jangan sampai terlambat kalau tiba2 mereka harus pergi utk selamanya,
Just do it..."selama masih ada waktu...."
Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
Have a blessing Friday 
Print Friendly and PDF

Friday, May 20, 2016

Agama Apa Yang Paling Baik?


Seorang ahli dari kelompok "The Theology Of Freedom" dari Brazil bernama Leonardo Boff bertanya pd Dalai Lama pemimpin umat Buddha dari Tibet,
"Yang Mulia, apakah agama terbaik?"
Leonardo Boff menduga bahwa Dalai Lama akan menjawab,
Agama Buddha dari Tibet atau agama Oriental yg lebih tua dari agama Kristen.
Ternyata sambil tersenyum, Dalai Lama menjawab,
"Agama terbaik adalah agama yg lebih mendekatkanmu  pada TUHAN, yaitu agama yg membuatmu mjd org yg lebih baik."
Sambil menutupi rasa malu karna punya dugaan kurang baik tentang Dalai Lama,
Leonardo Boff bertanya lagi,
"Apakah tanda agama yg membuat kita mjd lbh baik?"
Jawaban Dalai Lama,
"Agama apapun yg bisa membuatmu
- Lebih welas asih,
- Lebih berpikiran sehat,
- Lebih objektif & adil,
- Lebih menyayangi,
- Lebih manusiawi,
- Lebih punya rasa tanggung jawab,
- Lebih ber-etika.
Agama yg punya kualitas seperti di atas adalah agama terbaik."
Leonardo Boff terdiam sejenak & ter-kagum² atas jawaban Dalai Lama yg bijaksana & tdk dpt di bantah.
Selanjutnya, Dalai Lama berkata,
"Tidak penting bagiku kawan, Apa agamamu, Tidak peduli kamu beragama atau tidak.
Yg betul² penting bagiku adalah perilakumu di depan kawan² mu, di depan keluarga, lingkungan kerja & dunia."
Akhirnya, Dalai Lama berkata,
"Jagalah pikiranmu, Karena akan menjadi perkataanmu.
Jagalah perkataanmu, Karena akan menjadi perbuatanmu.
Jagalah perbuatanmu, Karena akan menjadi kebiasaanmu.
Jagalah kebiasaanmu, Karena akan membentuk karaktermu.
Jagalah karaktermu, Karena akan membentuk nasibmu,
Jadi sebenarnya, nasib mu berawal dari pikiran mu.
Jbu all !
Print Friendly and PDF

Berlanganan