Friday, July 29, 2016

PERPULUHAN


POLEMIK PERSEPULUHAN PASAL 1
PENDAHULUAN Kebenaran Persepuluhan telah dilakukan oleh hampir seluruh denominasi gereja sekarang ini. Bahkan denominasi gereja-gereja aliran besar yang dahulu menolak sudah melaksanakannya. Hanya akhir-akhir ini ada ajaran yang disebarkan untuk menolak kebenaran persepuluhan dengan alasan bahwa kebenaran ini telah digenapkan bersama Hukum Taurat. Jadi, tidak lagi perlu dilakukan. Kebanyakan mereka yang menolak berdasarkan ayat Firman Allah dalam Efesus 2:15 : “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,” Dasar ajaran mereka bahwa perpuluhan bagian dari Hukum Taurat telah dibatalkan atau diselesaikan oleh kematian Yesus Kristus di Kayu Salib. Memang Kristus sudah mati sebagai Mesisas dan Juruselamat dan telah menggenapkan Taurat, tetapi perpuluhan itu adalah kebenaran Allah bukan termasuk Taurat yang sudah digenapkan oleh Yesus Kristus. Pelaksanaan perpuluhan tetap menjadi kebenaran gereja masa kini. Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus pernah menyinggung masalah perpuluhan dalam hal yang paling kecil sekalipun (Baca: Mat. 23:23; Luk. 11:42; Luk. 18:12). Tuhan Yesus juga pernah berkata bahwa bayarlah kepada kaisar apa yang kaisar punya dan kepada Tuhan apa yang Tuhan punya. Hal ini menunjuk persoalan kepemilikan, yang dimaksudkan tentang perpuluhan yang adalah milik Tuhan yang ada dalam harta kita, Mat. 22:21; Mark. 12:17. Mengapa kita harus membayar perpuluhan? Jawaban yang paling tepat ialah karena itu kebenaran perintah Tuhan kepada GerejaNya, menjadi kewajiban kita untuk menopang pekerjaan pelayananNya dimuka bumi. Persepuluhan juga sebagai dasar kebenaran untuk hidup yang diberkati Tuhan. Baca: Kej. 14:18-20; Im. 27:31-34; Mal. 3:6-10. Tetapi kebenaran persepuluhan utamanya sebagai bukti menguji Kasih serta Ketaatan kita kepada FirmanNya. Apabila kita merenungkan lebih mendalam tentang kebenaran persepuluhan yang hanya meminta membayar 10% dari harta kita. Sesungguhnya orang percaya harus jujur dan mengakui sesungguhnya bahwa kita tidak mempunyai sedikit pun hak kepemilikan atas hidup kita karena semuanya hanya pemberian Tuhan. Pertama, manusia hanya tanah liat belaka, tapi Tuhan menghembuskan nafasNya, rohNya, sehinggah kita menjadi makhluk hidup. Tanpa kehidupan dari Tuhan manusia hanya tanah belaka, Yoel 2:21; 2 Kor. 4:7, renungkan sejenak bahwa manusia hanya tanah belaka. Hidup kita adalah 100% kasih karunia Allah. Tuhan-lah pemilik Kehidupan manusia, Kej 2:7. Kedua, manusia sudah jatuh kedalam dosa sehinggah manusia telah masuk dalam kegelapan dosa. Upah dosa adalah maut, tapi Yesus Kristus yang kaya dengan rahmatNya telah menghidupkan kita kembali melalui penebusanNya dan kuasa kebangkitanNya dan oleh kasih karuniaNya kita deselamatkan (Efesus 2:1-6). Kita sudah dibayar tunai tidak ada sedikit pun dalam hidup kita menjadi milik kita. Kita harus muliakan Dia dengan seluruh yang ada dalam hidup yang adalah milikNya (1 Kor. 6:19-20). Mari merenungkan kebenaran ini, bahwa bukan milik kita tetapi seluruhnya adalah milik Dia yang telah mati ganti kita. Dengan kebenaran untuk mengenal siapa kita sesungguhnya, jelasalah bahwa adalah mutlak kebenaran Tuhan untuk berkata berilah 100% milikmu kepada Tuhan dan sudah tentu tidak dapat kita tolak sebab memang hidup kita 100% milik Dia. 1 Korintus 6:19-20 : “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -- dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”. Coba bayangkan kemurahanNya yang besar, bahwa Allah tidak menuntut 100% dari milik kita. Dia hanya meminta 10%. Bagaimana kita sebagai milik tebusanNya bisa mau berargumentasi untuk menolak kebenaran persepuluhan ini? Kalau kita mengasihi Dia dan mau taat kepadaNya tentu kita akan mengucap syukur, ternyata persepuluhan juga menjadi tanda ikatan kita dengan Dia sebagai pencipta supaya orang percaya tetap menyadari bahwa kita orang percaya adalah milik Dia sebagai pencipta. Lebih dahsyat lagi bahwa ada janji yang pasti kepada kita dengan persepuluhan ini, dalam Maleakhi 3:10: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Oh alangkah bahagianya kita orang percaya, ternyata pengembalian persepuluhan adalah maksud Tuhan untuk menguji Kasih dan Ketaatan orang percaya. Persembahan persepuluhan menjadi ikatan janji orang percaya menjadi jalan kebenaran hidup diberkati dengan berkelimpahan. Kenyataannya, menjadi bukti bahwa semua orang percaya yang membayar persepuluhan, hidup mereka diberkati Tuhan. Patut diingat, kita tidak membayar persepuluhan supaya diberkati, tetapa karena kasih dan ketaatan kepada Firman Allah, keberkatan hanyalah kegenapan firman yang mengikuti perbuatan kebenaran itu. Jauhkan tujuan membayar persepuluhan supaya diberkati. Bayarlah persepuluhan karena kita mengasihi Allah dan mau taat kepada FirmanNya. Yakobus 1:25; “Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.”
PASAL 2 PERSEPULUHAN BUKAN TAURAT TETAPI KEBENARAN FIRMAN ALLAH
Disinilah terletak problematiknya, bahwa banyak orang percaya menolak membayar persepuluhan karena konsep teologis yang keliru. Ajaran keliru yang sedang diedarkan oleh mereka yang menolak persepuluhan mengajarkan bahwa persepuluhan itu adalah Taurat yang telah digenapi Yesus Kristus pada kematianNya di kayu Salib. Pertanyaan:Benarkah bahwa persepuluhan itu adalah termasuk Hukum Taurat yang telah digenapi oleh Tuhan Yesus Kristus? Jawabannya: Persepuluhan bukan Hukum Taurat tetapi Kebenaran Firman Allah. Hanya persepuluhan menjadi pokok utama dalam Taurat sehubungan dengan kehidupan orang-orang Lewi dalam pelayanan ritual imamat mereka yang tidak mendapat warisan kepemilikan. Mereka (Lewi) hanya hidup oleh persembahan persepuluhan yang kewajiban semua suku-suku Israel lainnya. Jadi, seluruh Israel harus membayar persepuluhan untuk pelayanan Imamat orang Lewi yang melayani Kemah Sembahyang, Bait Allah. Bilangan 18:21-22 “Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan. Maka janganlah lagi orang Israel mendekat kepada Kemah Pertemuan, sehingga mereka mendatangkan dosa kepada dirinya, lalu mati;” Kita baca lagi dalam Imamat 27:30-33; Ul. 14:22-29, semua kebenaran keutamaan persepuluhan hanya untuk orang Lewi yang melayani Imamat Allah dalam Kemah Sembahyang dan Bait Allah. Keutamaan persepuluhan Taurat menjadi penyebab asumsi sebagian orang bahwa persepuluhan itu adalah hukum Taurat yang sudah digenapi. Pertanyaan diatas tentang benarkah persepuluhan sudah digenapi oleh kematian Yesus Kristus dalam Kasih Karunianya akan segera terjawab dan dikuakan. Sebenarnya hal ini bukan lagi rahasia bagi kita semua. Banyak orang percaya tidak memberikan waktunya untuk belajar kebenaran Firman Allah secara menyeluruh. Pemahaman teologi itu harus bersifat menyeluruh. Kita sesungguhnya tidak boleh cepat-cepat memutuskan segala sesuatu sebelum saling mengkaitkan semua kebenaran Firman Allah. Contoh, kita tidak mampu memahami kebenaran persepuluhan tanpa menyentuh perspektif “Teologi Perjanjian Lama”. Dalam perspektif kebenaran yang menyeluruh akan terlihat jelas bahwa ternyata Yesus Kristus tidak menggenapkan atau membatalkan seluruh Taurat hanya yang ada kaitannya dengan Yesus Kristus sebagai Anak Domba, Imam Besar dan Messias. Hukum Taurat kebenarannya terdiri dari; Pertama: Ketetapan Hukum Ibadah Israel yang dilaksanakan imam besar didalam kemah sembahyang, Bait Allah bersama orang Lewi. Seluruh Liturgi yang dilaksanakan di Kemah Sembayang/ Bait Allah Yerusalem dan semua aturannya secara seremonial. Kedua, Hukum Taurat yang mengandung peraturan-peraturan untuk kehidupan masyarakat Israel yaitu hukum adat istiadat yang khusus berlaku untuk bangsa Israel, Ketiga, Hukum Kesusilaan, Etika, peraturan-peraturan kelakuan terhadap Allah, Firman Allah yang bersifat kekal dan menyeluruh, yang berinti kepada kesepuluh hukum. Hukum yang pertama dan kedua itulah yang sudah digenpakan oleh Tuhan Yesus Kristus ketika Dia mati diatas kayu salib. Sedangkan hukum yang ketiga bersifat menyeluruh (Lex Naturalis), itu tetap berlaku sampai hari ini. Jadi, kematian Tuhan sebagai Anak Domba tidak menghapuskan keseluruhan Taurat Tuhan. Hukum pertama dan kedua dari Taurat tersebut tidak belaku lagi semua telah digenapkan oleh Tuhan Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah. Kesepuluh hukum Allah, persepuluhan, kitab nabi-nabi sebagai Firman Allah yang menjadi kebenaran sampai sekarang
PASAL 3 PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN ADA SEBELUM TAURAT
Walaupun Persepuluhan menjadi kewajiban dalam Taurat, tetapi persepuluhan bukan berawal dari Taurat. Jauh sebelum Nabi Musa menerima Tauarat diatas gunung Sinai kebenaran persepuluhan sudah ada. Sekitar 430 Tahun sebelum Taurat diturunkan bahwa Allah sudah menyatakan kebenaran persepuluhan itu melalui Nabi Ibrahim. Kejadian 14:18-20 : “Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: "Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi,…” Siapakah Melkisedekh yang kepadaNya, Abram membawa persembahan persepuluhan. Kita akan mengenal Melkisedekh melalui kitab Ibrani 7-1-3 : “Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera. Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.” Siapakan Melkisedekh ini? Dia tidak berbapa, Dia tidak beribu, Dia adalah Imam Besar untuk selama-lamanya dan dijadikan sama dengan Anak Allah, Raja Damai, Raja Kebenaran, Raja Damai Sejahtera. Perhatikan semua gelar yang diperuntuk kepada Yesus Kristus dimiliki oleh Melkisedekh. Dikatakan dalam Ibrani 7:4 : bahwa betapa besar orang itu kepadanya Abraham bapa leluhur memberi persembahan persepuluhan dan Dia memberkati Abraham. Jelaslah bahwa Melkisedekh perwujudan Yesus Kristus dalam Perjanjian Lama. Dalam istilah Teologi Melkisedekh merupakan “Teopani” Tuhan Yesus Kristus. Teopani artinya, Tuhan mewujudkan dirinya dalam penampakan sebagai manusia, malaikat dan seterusnya. Ingat, bahwa pada waktu itu Yesus yang Oknum kedua Allah (Tritunggal) adalah FIRMAN (LOGOS), Dia belum berinkarnasi menjadi manusia (Yoh. 1:14). Keadaan dan sifat Yesus sebagai Firman adalah Roh juga, Allah itu Roh adanya (Yoh. 4:24). Melkisedekh, Imam Besar selama-lamanya itu adalah penampakan Teopani-Nya kepada Abraham, dan Abraham membayar persepuluhan kepadaNya. Peristiwa ini terjadi 430 tahun sebelum Taurat diberikan kepada nabi Musa digunung Sinai pada tahun 1495 Sebelum Masehi. Persepuluhan adalah kebenaran Firman Allah yang kekal bukan Taurat yang telah digenapi. Demikian pula Yakub mengikuti jejak kakeknya memberi sepersepuluh dari berkat-berkatnya kepada Tuhan. Yakub berkata :”…dari segala sesuatu yang engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepadaMu” (Kejadian 28:22) Pada waktu Musa menerima Hukum Taurat di gunung Sinai, ternyata kebenaran persepuluhan diteguhkan menjadi salah satu kewajiban utama bagi bangsa Israel. Memang ada banyak hal kebenaran dalam Taurat yang merupakan kesinambungan dari apa yang sudah Allah nyatakan sebelum Taurat. Kita tidak dapat langsung memutuskan bahwa semua yang diberikan Allah kepada Musa menjadi bagian dari Taurat. Banyak kebenaran yang diberikan dalam Taurat sudah ada sebelum Taurat. Misalnya, ketika Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa mereka mengambil daun pokok ara untuk menutupi ketelanjangan mereka dan Allah menggantikan dengan kulit binatang untuk menjadi pakaian mereka (Kej. 3:7, Kej. 3:21). Kebenaran bahwa Allah menggantikan pakaian mereka dengan kulit binatang berarti sudah terjadi penyembelihan binatang dan pencurahan darah. Didalam Taurat pengampunan dosa dan pendamaian dengan Allah bagi Israel hanya melalui pengorbanan dan pencurahan darah binatang (Imamat 16:15-17). Dan kegenapan darah binatang dan penyembelihan Anak Domba Allah menjadi ketentuan kebenaran yang kekal untuk keselamatan manusia. Hanya dalam Hukum Taurat ditetapkan melalui darah korban binatang, sedangkan dalam Perjanjian Baru digenapkan oleh Darah Domba Allah yang benar yaitu darah Tuhan Yesus Kristus. Pembenaran oleh darah tidak terjadi yang pertama oleh hukum Taurat, tetapi jauh sebelum Tauarat diberikan kepada Musa. Demikian pula dengan persepuluhan, jauh sebelum Taurat diberikan bahwa bapa Abraham dan Yakub sudah melakukannya dengan setia. Karena itu, persepuluhan bukan bagian dari Taurat saja, tetapi telah menjadi ketentuan Allah sampai pada zaman Perjanjian Baru.
PASAL 4 PERSEPULUHAN DALAM PERJANJIAN BARU
Sebelum masuk dalam penguraian tentang kebenaran persembahan persepuluhan dalam Perjanjian baru saya merasa perlu juga menjelaskan pengertian tentang makna bahwa Taurat sudah digenapkan dan dibatalkan oleh Yesus Kristus. Kata digenapkan dan dibatalkan telah diterjemahkan mentah-mantah. Banyak yang berpikir bahwa Taurat itu sudah selesai dan tidak berfaedah lagi. Makna teologis tentang digenapkan atau dibatalkan tidak berarti sudah berhenti dan ditiadakan begitu saja. Tetapi, justru sudah digenapkan dan dinyatakan kepada makna yang lebih besar dan mulia. Makna digenapkan oleh kebenaran yang lebih besar dan mulia itu harus kita pahami sehingga alur kebenarannya dari sebelum Taurat diturunkan. Pada zaman Taurat, Perjanjian Lama kemudian Perjanjian Baru terlihat jelas dan tidak putus begitu saja. Kebenaran itu bagaikan cahaya yang semakin lama semakin terang benderang sampai kepada siang yang sempurna (Amsal 4:18). Matius 5:17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Efesus 2:15 “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,” Kematian Yesus Kristus diatas Kayu Salib sudah menerangi Taurat kepada makna kebenaran yang lebih besar dan mulia dari kebenaran bayang-bayang, tidak ada lagi kebenaran bayangan oleh gambaran bahwa semua telah menjadi nyata dan jelas penuh kemuliaan didalam Tuhan Yesus Kristus.Sebagai contoh bahwa Darah binatang telah diganti dengan kemuliaan darah Anak Domba sejati yaitu Darah Tuhan Yesus Kristus. Bait Allah / Tabernakel telah diganti dengan bait Allah bukan buatan tangan manusia yaitu, Tubuh Kristus tempat maha kudus Allah di sorga mulia. Persepuluhan bukan lagi hanya kewajiban bangsa Israel, tetapi seluruh orang percaya sehingga kemuliaan berkatnya berlaku untuk semua orang tidak terbatas hanya untuk Israel. Ingat, kebenaran persepuluhan mengakibatkan orang percaya diberkati dengan berkat berkelimpahan. Begitu pula kita tidak lagi memerlukan minyak urapan, karena telah digantikan dengan Oknum Roh Kudus yang jauh lebih mulia dan dahsyat kuasaNya bagi kita orang percaya. Baca: 1 Pet. 1:18-19; Roma 5:9; Ibrani 9:11-14; Kisah 2:4; Ef. 1:18-19. Ayat-ayat diatas semua bercerita tentang kedahsyatan kebenaran yang sudah datang akibat penggenapan Taurat oleh Anak Domba Allah. Kematian Kristus sudah menggenapkan Taurat, Allah bukan lagi terikat dengan satu bangsa yaitu Israel, tetapi oleh Kasih KaruniaNya telah membuka diriNya menjadi milik semua bangsa didunia. Karena itu, kebenaran persepuluhan sekarang adalah untuk seluruh bangsa-bangsa. Artinya, seluruh bangsa yang percaya kepadaNya siapa untuk diberkati melalui melakukan persepuluhan. Maleakhi 3:10, “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Persepuluhan juga menjadi satu standar kekudusan orang percaya dihadapan Tuhan. Ternyata persepuluhan juga menjadi tanda ikatan kejujuran orang percaya untuk dapat tunduk total dalam ketaatan kepada Allah. Maleakhi 3:6-8 “Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap. Sejak zaman nenek moyangmu kamu telah menyimpang dari ketetapan-Ku dan tidak memeliharanya. Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu, firman TUHAN semesta alam. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali?" Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! Persepuluhan bukan hanya sebagai jalan yang pasti untuk orang percaya diberkati, tetapi juga menjadi ukuran yang dapat kita deteksi apakah kita kudus dan menjadi orang percaya yang mentaati Tuhannya. Tentu kita sebagai orang percaya menghendaki dikatakan menjadi penipu Allah. Secara gamblang Firman Tuhan menghisabkan kita sebagai penipu Allah apabila tidak mengembalikan persepuluhan. Persepuluhan bukan hanya sebagai jalan yang pasti untuk orang percaya diberkati, tetapi juga menjadi ukuran yang dapat kita deteksi apakah kita kudus dan menjadi orang percaya yang mentaati Tuhan-nya. Dengan memperhatikan ayat diatas, nampak jelas bahwa pelaksanaan persembahan persepuluhan dan persembahan khusus telah merupakan ketetapan Tuhan. Barangsiapa melanggarnya dianggap telah meninggalkanNya, sehingga Ia berkata “Kembalilah kepada-KU”.
Mengapa Persepuluhan kurang disebut dalam Perjanjian Baru? Disinilah persoalannya, dikarenakan jarang disebut dalam Perjanjian Baru, itu menjadi alasan bagi mereka yang tidak melakukannya, berani berkata bahwa persepuluhan hanya dilakukan bagi Israel pada masa Taurat dan sekarang tidak berlaku lagi. Persepuluhan sudah jelas menjadi ketetapan Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Taurat tidak perlu lagi mendapatkan tempat yang harus diulangi dan ditekankan kembali dalam Perjanjian Baru. Telah menjadi ketetapan khususnya bagi bangsa Israel. Tuhan Yesus tidak pernah meniadakan persepuluhan malahan Tuhan Yesus mengkoreksi supaya persepuluhan menjadi sempurna jangan mangabaikan kebenaran lainnya. Semasa Yesus melaksanakan misiNya selama 31/2 tahun sebelum mati di atas kayu salib Dia telah mulai mengajarkan Kebenaran Kasih Karunia Allah (Agape) yang menjadi pokok ajaranNya. Karena itu, dasar membawa persepuluhan pada zaman Perjanjian Baru tidak sama lagi dengan dasar persembahan persepuluhan dalam Taurat atau Perjanjian Lama. Tuhan Yesus Kristus menekankan pada zaman kasih Karunia ini atau zaman gereja bahwa orang percaya harus membawa persembahan persepuluhan berdasarkan Kasih Karunia-Nya yaitu kita membawa dengan dasar iman mengasihi Dia yang telah mati untuk keselamatan kita. Kristus Yesus mengajarkan bahwa persepuluhan haruslah dilakukan dengan dasar iman, keadilan (jujur), dan belas kasihan (Kasih-Nya). Matius 23:23 “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Bayangkan bahwa Tuhan Yesus memuji Israel dan para ahli Taurat dan orang-orang farisi jujur dan ketat dengan persembahan persepuluhan sampai kepada hal yang kecil yang mereka miliki (hasil tanaman: selasi, adas manis, dan jintan dstnya). Perhatikan bahwa mereka mempersembahkan persepuluhan dari semua yang mereka miliki. Namun inti persekutuan dengan Allah mereka abaikan, yaitu kasih belas kasihan dan keadilan. Disini kita melihat persepuluhan diteguhkan oleh Tuhan Yesus. Belas kasihan, keadilan dan kesetiaan menjadi pokok ajaran yang menjadi misi Tuhan Yesus dalam kasih karuniaNya, Efesus 2:4-5,8. Karena itu, dasar membawa persepuluhan pada zaman Perjanjian Baru tidak sama lagi dengan dasar persembahan persepuluhan dalam Taurat atau Perjanjian Lama. Tuhan Yesus Kristus menekankan pada zaman kasih Karunia ini atau zaman gereja bahwa orang percaya harus membawa persembahan persepuluhan berdasarkan Kasih Karunia-Nya yaitu kita membawa dengan dasar iman mengasihi Dia yang telah mati untuk keselamatan kita semua
Tuhan Yesus juga Memberi Persembahan Persepuluhan. Tidak terlihat dalam ayat yang jelas bahwa Yesus membawa korban persepuluhan-Nya. Sebagaimana saya sudah uraikan sebelumnya, bahwa persepuluhan bukanlah ajaran yang baru bagi orang Yahudi. Persembahan Persepuluhan sudah menjadi tradisi yaitu kebenaran yang sudah mendarah daging bagi Israel sejak seribuan tahun sebelumnya. Ingat bahwa Tuhan Yesus tidak perlu lagi mengulang-ulangi sesuatu yang sudah menjadi tradisi ribuan tahun bagi Yahudi. Dia sedang sibuk dengan satu misi yaitu menyelamatkan isi dunia melalui Kasih KaruniaNya. Itulah sebabnya, semua ajaran Yesus Kristus menjadi batu antukan bagi Israel. Ajaran-ajaran Tuhan Yesus selalu dianggap bertentangan dengan ajaran Taurat Musa. Memang yang menjadi penyebab Yesus Kristus disalibkan, sebab ajaranNya dianggap para ahli Taurat sudah menghujat Allah Israel. Dia tidak mengulangi lagi tentang persepuluhan karena hal ini sudah menjadi ajaran tradisi yang mendaging bagi Yahudi. Kristus Yesus sedang memperkenalkan satu “Perjanjian Baru” dimana Dia akan menggenapkan “Nubuatan tentang Anak Domba Allah” yang menggenapkan Taurat menjadi dasar pokok ajaran Kasih Karunia-Nya, Yoh 1:29, Mat. 24:1-2
Oleh: Pdt. DR. Lefran Lapian
Print Friendly and PDF

Radikal Grace dan Hyper Grace


RADICAL GRACE / HYPER GRACE
Hyper Grace adalah istilah yang dimunculkan oleh Dr. Michael Brown dalam bukunya “Hyper Grace: Exposing the Dangers of the Modern Grace Message” (2014). Buku ini menanggapi dan mengkritisi ajaran tentang kasih karunia yang disebut “Grace Revolution atau Radical Grace” yang dinilainya sangat melampaui dan melenceng dari apa yang termaktub dalam Alkitab. Ajaran ini dipopulerkan oleh Joseph Prince, Gembala Senior di New Creation Church, Singapore, sebagaimana termuat dalam bukunya: “Destined to Reign”.
              Radical Grace itu sendiri pada garis besarnya adalah suatu ajaran tentang kasih karunia yang menyelamatkan, memerdekakan serta dampaknya dalam kehidupan orang yang menerimanya. Menjadi menarik, karena oleh ajaran ini orang dimotivasi dan diinspirasi untuk selalu berpandangan positif, bebas dari rasa berdosa, salah, takut dan sejenisnya. Cenderung menafikan tanggungjawab dan partisipasi, menghindari segala hal yang dianggapnya membelenggu, memenderitakan, menuduh dan menuntutnya.  Dengan demikian istilah hyper grace itu menunjuk pada ajaran radical grace.
Tambahan : ajaran ini bukanlah ajaran baru, beberapa puluh tahun lalu asal Inggris Marthin Loidon 1973, berdasarkan ayat Rm 8:1, Michael Brown 2012, Joseph Prince 2014
Beberapa Muatan Ajaran Radical Grace/Hyper Grace
Kasih karunia bagi penebusan dosa manusia bersifat semua dan selamanya.
Berdasar pada ayat Kolose 2:13;   “......Ia mengampuni segala pelanggaran kita.” dan Ibrani 10:14;  “....Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang dikuduskan.”  Bahwa, setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan telah menerima kasih karunia, semua dosanya sudah dibasuh oleh darah-Nya yang kudus, baik dosa keturunan maupun dosa yang diperbuat di masa lampau, dosa yang diperbuat di masa ini, bahkan dosa yang belum dan yang akan diperbuatnya di masa yang akan datang. Sepenuhnya, ia telah diampuni dan tidak harus lagi bertanggungjawab atas dosa-dosa yang diperbuatnya.
Keyakinan pada ajaran ini berimplikasi bahwa,
-          Orang percaya tidak bisa melakukan dosa yang tidak bisa diampuni.
Dengan alasan, karena semua dosa orang percaya sudah diampuni. Saat orang percaya mengerti mengapa Tuhan mengutus Roh Kudus, ia akan menyadari, bahwa dosa yang tidak bisa diampuni adalah menolak Yesus secara konsisten. Karena itu menghujat Roh Kudus berarti secara konsisten menolak pribadi Yesus yang Roh Kudus saksikan.
-          Orang percaya tidak perlu bertanggungjawab, tidak perlu mengakui dan    minta ampun atas dosa-dosa yang diperbuatnya sekarang, karena secara otomatis semua dosa sudah diampuni. Pengakuan dosa dilakukan  karena ia tahu bahwa dirinya sudah diampuni, bukan untuk memohon pengampunan.
-          Orang percaya tidak perlu  merasa, menyadari dan mengoreksi diri atas dosa-dosanya. Jika suara hati dan pikirannya menuduhkan dosa, hal itu harus dianggap sebagai strategi dan suara iblis agar ia merasa tidak berlayak.
-          Orang percaya tidak pernah ditegor oleh Roh Kudus tentang dosa-dosanya. Roh Kudus  tidak pernah menunjukkan kesalahan orang percaya. Roh Kudus justru akan mengingatkan dan meyakinkan orang percaya, bahwa Tuhan masih menganggapnya benar meskipun ia telah gagal, bahkan saat jatuh dalam dosa.
Kasih karunia adalah pribadi Yesus sendiri
Kasih karunia bukan sekedar topik, doktrin atau teologi, melainkan suatu pribadi, nama-nya adalah Yesus. Tuhan mau, orang percaya menerima kelimpahan kasih karunia, karena mempunyai kelimpahan kasih karunia adalah mempunyai kelimpahan Yesus.
Segala sesuatu harus baik.
        Allah itu baik,  maka  segala sesuatu  yang  berasal  dari-Nya  tidak ada kesan
        yang tidak baik. Semua yang dari Tuhan diharapkan yang baik saja, sebaliknya
        yang  berkesan  tidak  baik   harus  ditolak,  sebagaimana   ungkapan,  bahwa
        Tuhan akan mendidik dan mendisiplin  anak-anak-Nya  dengan menggunakan
        penyakit, wabah, kecelakaan, tragedi dan kegagalan
Iman tidak timbul hanya dari mendengarkan Firman Tuhan.
        Menurutnya, iman timbul  dari  mendengar  Firman Kristus  saja,  bukan dari       
        Firman  Tuhan,   karena  Firman  Tuhan  itu  meliputi  segala  sesuatu  dalam
        Alkitab,  termasuk didalamnya  hukum Taurat Musa.  Mendengarkan Firman
        Kristus   adalah   mendengarkan  pemberitaan   dan  pengajaran   yang  telah
        disaring    melalui   Perjanjian  Baru   kasih  karunia   dan   karya  Yesus   yang
        sempurna.
Kasih karunia dimulai dari saat Yesus disalib.
       Kecenderungannya,   bahwa  sebelum  salib  tidak  ada  kasih  karunia,  selain
       hukum  sebagaimana  Perjanjian Lama.  Sebaliknya,  setelah  salib  Perjanjian
       Baru dimulai, saat Roh Kudus dicurahkan pada hari Pantekosta.  
Bagaimana Seharusnya Kita Bersikap
              Secara Umum,
-          Realistis, bahwa kita hidup, berpijak dan berada bukan dalam ruang dan waktu yang kosong;  tidak steril.
-          Berdaya survival; komit, tidak goyah seperti Sadrakh, Mesakh, Abednego; gereja mula-mula.
-          Berdaya spiritual; komit, menjaga diri bersih seperti Daniel; Yusuf.
-          Berdaya profesional;  komit, rendah hati, tidak berhenti mempertajam diri, kritis dan adaftif seperti Daud; Paulus
              Secara Khusus,
              Kita percaya dan menerima pernyataan Alkitab seutuhnya, bahwa:
-          Kasih karunia Allah menyelamatkan semua manusia (Titus 2:11)
-          Kasih karunia Allah memerdekakan orang percaya (Roma 6:14, 18)
-          Kasih karunia Allah membenarkan orang-orang yang tidak benar melalui karya penebusan Yesus di kayu salib (Roma 3:23-24; 1 Tim.1:12-17)
-          Kasih karunia Allah menyanggupkan, memampukan orang percaya (Roma 5:17; I Kor.15:10)
-          Kasih karunia Allah menuntut respon manusia dengan iman, pertobatan dan tanggungjawab sebagaimana seharusnya (Efs.2:8-10; Fil.2:12; Roma 6:1-2)
-          Kasih karunia Allah mendidik sebagaimana seorang Bapa terhadap anak-anak yang dikasihinya sesuai dengan kedaulatan-Nya (Titus 2:12)
-          Kasih karunia selalu bersama dan di dalam Allah dari waktu ke waktu; selalu cukup, tak habis-habisnya (2 Kor.12:9; bdk.Ratapan 3:22-23)
-          Sesuai dengan kasih karunia-Nya, Roh Kudus selalu berkarya, mengingatkan, menginsyafkan, mengajarkan, menyertai dan menuntun orang percaya ke dalam seluruh kebenaran (Yoh.14:26; 16:8-11, 13)  Narasumber: Yos Hartono
 

                                                                                                                      
Print Friendly and PDF

Berlanganan