Friday, July 29, 2016

Radikal Grace dan Hyper Grace


RADICAL GRACE / HYPER GRACE
Hyper Grace adalah istilah yang dimunculkan oleh Dr. Michael Brown dalam bukunya “Hyper Grace: Exposing the Dangers of the Modern Grace Message” (2014). Buku ini menanggapi dan mengkritisi ajaran tentang kasih karunia yang disebut “Grace Revolution atau Radical Grace” yang dinilainya sangat melampaui dan melenceng dari apa yang termaktub dalam Alkitab. Ajaran ini dipopulerkan oleh Joseph Prince, Gembala Senior di New Creation Church, Singapore, sebagaimana termuat dalam bukunya: “Destined to Reign”.
              Radical Grace itu sendiri pada garis besarnya adalah suatu ajaran tentang kasih karunia yang menyelamatkan, memerdekakan serta dampaknya dalam kehidupan orang yang menerimanya. Menjadi menarik, karena oleh ajaran ini orang dimotivasi dan diinspirasi untuk selalu berpandangan positif, bebas dari rasa berdosa, salah, takut dan sejenisnya. Cenderung menafikan tanggungjawab dan partisipasi, menghindari segala hal yang dianggapnya membelenggu, memenderitakan, menuduh dan menuntutnya.  Dengan demikian istilah hyper grace itu menunjuk pada ajaran radical grace.
Tambahan : ajaran ini bukanlah ajaran baru, beberapa puluh tahun lalu asal Inggris Marthin Loidon 1973, berdasarkan ayat Rm 8:1, Michael Brown 2012, Joseph Prince 2014
Beberapa Muatan Ajaran Radical Grace/Hyper Grace
Kasih karunia bagi penebusan dosa manusia bersifat semua dan selamanya.
Berdasar pada ayat Kolose 2:13;   “......Ia mengampuni segala pelanggaran kita.” dan Ibrani 10:14;  “....Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang dikuduskan.”  Bahwa, setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dan telah menerima kasih karunia, semua dosanya sudah dibasuh oleh darah-Nya yang kudus, baik dosa keturunan maupun dosa yang diperbuat di masa lampau, dosa yang diperbuat di masa ini, bahkan dosa yang belum dan yang akan diperbuatnya di masa yang akan datang. Sepenuhnya, ia telah diampuni dan tidak harus lagi bertanggungjawab atas dosa-dosa yang diperbuatnya.
Keyakinan pada ajaran ini berimplikasi bahwa,
-          Orang percaya tidak bisa melakukan dosa yang tidak bisa diampuni.
Dengan alasan, karena semua dosa orang percaya sudah diampuni. Saat orang percaya mengerti mengapa Tuhan mengutus Roh Kudus, ia akan menyadari, bahwa dosa yang tidak bisa diampuni adalah menolak Yesus secara konsisten. Karena itu menghujat Roh Kudus berarti secara konsisten menolak pribadi Yesus yang Roh Kudus saksikan.
-          Orang percaya tidak perlu bertanggungjawab, tidak perlu mengakui dan    minta ampun atas dosa-dosa yang diperbuatnya sekarang, karena secara otomatis semua dosa sudah diampuni. Pengakuan dosa dilakukan  karena ia tahu bahwa dirinya sudah diampuni, bukan untuk memohon pengampunan.
-          Orang percaya tidak perlu  merasa, menyadari dan mengoreksi diri atas dosa-dosanya. Jika suara hati dan pikirannya menuduhkan dosa, hal itu harus dianggap sebagai strategi dan suara iblis agar ia merasa tidak berlayak.
-          Orang percaya tidak pernah ditegor oleh Roh Kudus tentang dosa-dosanya. Roh Kudus  tidak pernah menunjukkan kesalahan orang percaya. Roh Kudus justru akan mengingatkan dan meyakinkan orang percaya, bahwa Tuhan masih menganggapnya benar meskipun ia telah gagal, bahkan saat jatuh dalam dosa.
Kasih karunia adalah pribadi Yesus sendiri
Kasih karunia bukan sekedar topik, doktrin atau teologi, melainkan suatu pribadi, nama-nya adalah Yesus. Tuhan mau, orang percaya menerima kelimpahan kasih karunia, karena mempunyai kelimpahan kasih karunia adalah mempunyai kelimpahan Yesus.
Segala sesuatu harus baik.
        Allah itu baik,  maka  segala sesuatu  yang  berasal  dari-Nya  tidak ada kesan
        yang tidak baik. Semua yang dari Tuhan diharapkan yang baik saja, sebaliknya
        yang  berkesan  tidak  baik   harus  ditolak,  sebagaimana   ungkapan,  bahwa
        Tuhan akan mendidik dan mendisiplin  anak-anak-Nya  dengan menggunakan
        penyakit, wabah, kecelakaan, tragedi dan kegagalan
Iman tidak timbul hanya dari mendengarkan Firman Tuhan.
        Menurutnya, iman timbul  dari  mendengar  Firman Kristus  saja,  bukan dari       
        Firman  Tuhan,   karena  Firman  Tuhan  itu  meliputi  segala  sesuatu  dalam
        Alkitab,  termasuk didalamnya  hukum Taurat Musa.  Mendengarkan Firman
        Kristus   adalah   mendengarkan  pemberitaan   dan  pengajaran   yang  telah
        disaring    melalui   Perjanjian  Baru   kasih  karunia   dan   karya  Yesus   yang
        sempurna.
Kasih karunia dimulai dari saat Yesus disalib.
       Kecenderungannya,   bahwa  sebelum  salib  tidak  ada  kasih  karunia,  selain
       hukum  sebagaimana  Perjanjian Lama.  Sebaliknya,  setelah  salib  Perjanjian
       Baru dimulai, saat Roh Kudus dicurahkan pada hari Pantekosta.  
Bagaimana Seharusnya Kita Bersikap
              Secara Umum,
-          Realistis, bahwa kita hidup, berpijak dan berada bukan dalam ruang dan waktu yang kosong;  tidak steril.
-          Berdaya survival; komit, tidak goyah seperti Sadrakh, Mesakh, Abednego; gereja mula-mula.
-          Berdaya spiritual; komit, menjaga diri bersih seperti Daniel; Yusuf.
-          Berdaya profesional;  komit, rendah hati, tidak berhenti mempertajam diri, kritis dan adaftif seperti Daud; Paulus
              Secara Khusus,
              Kita percaya dan menerima pernyataan Alkitab seutuhnya, bahwa:
-          Kasih karunia Allah menyelamatkan semua manusia (Titus 2:11)
-          Kasih karunia Allah memerdekakan orang percaya (Roma 6:14, 18)
-          Kasih karunia Allah membenarkan orang-orang yang tidak benar melalui karya penebusan Yesus di kayu salib (Roma 3:23-24; 1 Tim.1:12-17)
-          Kasih karunia Allah menyanggupkan, memampukan orang percaya (Roma 5:17; I Kor.15:10)
-          Kasih karunia Allah menuntut respon manusia dengan iman, pertobatan dan tanggungjawab sebagaimana seharusnya (Efs.2:8-10; Fil.2:12; Roma 6:1-2)
-          Kasih karunia Allah mendidik sebagaimana seorang Bapa terhadap anak-anak yang dikasihinya sesuai dengan kedaulatan-Nya (Titus 2:12)
-          Kasih karunia selalu bersama dan di dalam Allah dari waktu ke waktu; selalu cukup, tak habis-habisnya (2 Kor.12:9; bdk.Ratapan 3:22-23)
-          Sesuai dengan kasih karunia-Nya, Roh Kudus selalu berkarya, mengingatkan, menginsyafkan, mengajarkan, menyertai dan menuntun orang percaya ke dalam seluruh kebenaran (Yoh.14:26; 16:8-11, 13)  Narasumber: Yos Hartono
 

                                                                                                                      
Print Friendly and PDF
Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: Radikal Grace dan Hyper Grace
Ditulis Oleh Sky Geth
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih

1 comments:

ini ini artikel ga bisa dishare , yah ?

Peraturan Berkomentar Di Blog Ini !

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang sopan, santun, baik.
- Dilarang keras komentar Sara,Pornografi,Kekerasan,Pelecehan.
- Berkomentarlah yang berhubungan dengan topik ( no OOT)
Terima Kasih

Berlanganan