Tuesday, December 27, 2016

THE LAST LECTURE


Dikutip dari Buku Karya Ausberg 49 tahun buku yang berjudul*
*"THE LAST LECTURE"*
*(Pengajaran Terakhir)* yang menjadi salah satu buku best-seller di tahun 2007.""
*KUNCI UNTUK MEMBUAT HIDUP ANDA LEBIH BAIK,*
terdiri atas 
*--Personality,*
*--Community* and
*--Life.* 
Berikut penjelasannya:
   *A.  PERSONALITY:*
*1*. Jangan membandingkan hidup Anda dengan orang lain karena Anda tidak pernah tahu apa yang telah mereka lalui.
*2.* Jangan berpikir negatif akan hal-hal yang berada diluar kendali Anda, melainkan salurkan energi Anda menuju kehidupan yang dijalani saat ini, secara positif
*3.* Jangan bekerja terlalu keras, jangan lewati batasan Anda.
*4*. Jangan memaksa diri Anda untuk selalu perfect, tidak ada satu orang pun yang sempurna.
*5.* Jangan membuang waktu Anda yang berharga untuk gosip.
*6*. Bermimpilah saat anda bangun (bukan saat tertidur).
*7*. Iri hati membuang-buang waktu, Anda sudah memiliki semua kebutuhan Anda.
*8*. Lupakan masa lalu. Jangan mengungkit kesalahan pasangan Anda di masa lalu. Hal itu akan merusak kebahagiaan Anda saat ini.
*9.* Hidup terlalu singkat untuk membenci siapapun itu. Jangan membenci.
*10*. Berdamailah dengan masa lalu Anda agar hal tersebut tidak mengganggu masa ini.
*11*. Tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas kebahagiaan Anda kecuali Anda.

*12*. Sadari bahwa hidup adalah sekolah, dan Anda berada di sini sebagai pelajar. Masalah adalah bagian daripada kurikulum yang datang dan pergi seperti kelas aljabar (matematika) tetapi, pelajaran yang Anda dapat bertahan seumur hidup.
*13*. Senyumlah dan tertawalah.
*14*. Anda tidak dapat selalu menang dalam perbedaan pendapat. Belajarlah menerima kekalahan.
      *B. COMMUNITY:*
*15.* Hubungi keluarga Anda sesering mungkin
*16*. Setiap hari berikan sesuatu yang baik kepada orang lain.
*17*. Ampuni setiap orang untuk segala hal
*18.* Habiskan waktu dengan orang-orang di atas umur 70 dan di bawah 6 tahun.
*19*. Coba untuk membuat............. paling sedikit 3 orang tersenyum setiap hari.
*20.* Apa yang orang lain pikirkan tentang Anda bukanlah urusan Anda.
*21*. Pekerjaan Anda tidak akan menjaga Anda di saat Anda sakit, tetapi keluarga dan teman Anda. Tetaplah berhubungan baik
           *C. LIFE:*
*22*. Jadikan Tuhan sebagai yang pertama dalam setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan Anda.
*23.* Tuhan menyembuhkan segala sesuatu.
*24.* Lakukan hal yang benar.
*25.* Sebaik/ seburuk apapun sebuah situasi, hal tersebut akan berubah.
*26*. Tidak peduli bagaimana perasaan Anda, bangun, berpakaian, dan keluarlah!.
*27.* Yang terbaik belumlah tiba.
*28*. Buang segala sesuatu yang tidak berguna, tidak indah, atau mendukakan.
*29.* Ketika Anda bangun di pagi hari, berterima kasihlah pada Tuhan untuk itu.
*30.* Jika Anda mengenal Tuhan, Anda akan selalu bersukacita. So, be happy.
Mati tdk menunnggu Tua....Mati tidak menunggu sakit...nikmati hidup....sebelum hidup tidak bisa di nikmati.
*Sahabatku !,*
*Saat membaca dan selesai menyimak semua hal di atas, kami mohon kepada sahabatku  untuk membagikan tulisan ini kepada "orang" yang kita cintai, "teman" sepermainan kita, "teman" kantor, teman dimasa kecil/remaja maupun "orang" yang tinggal dengan kita
Print Friendly and PDF

Friday, December 9, 2016

Pengertian Doa Yabes


#SAYAMAUTANYA_59
DOA YABES
Begini Pak, saya di gereja dituntun untuk memperkatakan firman Tuhan yaitu doa Yabes, 1 Tawarikh 4:10. Saya diajarkan untuk beriman, perkatakan firman dan alami. Sudah dua gereja yang tuntunannya begitu. Saya kurang mengerti Pak. Mohon bpk berikan pengertian. Terima kasih (ig)
_____
Saya melihat ada dua topik penting dalam pertanyaan saudara, yaitu tentang doa Yabes dan tentang memperkatakan firman. Sekarang ini saya hanya akan membahas topik pertama, sedangkan topik kedua akan saya bahas nanti. Terus terang saya merasa terlalu terlambat untuk menulis tentang topik ini, setelah ajaran tentang doa Yabes ini tersebar sedemikian luasnya sejak tahun 2001, termasuk di Indonesia. Tetapi seperti kata pepatah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Dan tentu saudara tahu bahwa saya tidak bermaksud men-support dan meneruskan ajaran ini, melainkan justru ingin ikut meluruskan pemahaman yang salah tentang doa Yabes. Beberapa ekseget dan apologet sudah memberikan review tentang ajaran ini, namun nama-nama mereka kurang dikenal di Indonesia, sehingga ulasan mereka pun tidak kedengaran di sini bahkan setelah belasan tahun!
Ini ayat yang saudara maksud, saya tuliskan juga satu ayat sebelumnya untuk lebih memperjelas. “9 Yabes lebih dimuliakan daripada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: "Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan.” 10 Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Dan Allah mengabulkan permintaannya itu. (1 Taw. 4:9-10)
Seperti yang seringkali saya katakan, banyak orang Kristen termasuk para pendeta senang sekali jika menemukan ayat-ayat Alkitab yang di dalamnya terdapat kata BERKAT apalagi jika diikuti dengan kata BERLIMPAH-LIMPAH. Lalu yang seringkali terjadi, mereka bukannya membiarkan Alkitab menjelaskan Alkitab, tetapi mereka malah akan memaksakan pengertian mereka sendiri dalam menjelaskan ayat yang mereka baca itu. Dan ketika pengertian sendiri itu diajarkan kepada jemaat, maka akan banyak jatuh korban, yaitu orang-orang yang dengan polos menerima ajaran yang disampaikan. Makanya saya mengapresiasi sikap saudara yang mau bertanya kepada pihak ketiga ketika ada ajaran yang tidak saudara mengerti atau yang saudara ragukan kebenarannya. Ini akan menolong bukan cuma diri saudara sendiri tetapi juga orang lain.
Kebanyakan orang yang mengajarkan doa Yabes, akan mengajarkannya seperti ini, bahwa kita perlu mencontoh iman Yabes yang berani mengajukan empat macam permintaan ini kepada Tuhan: 1) Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah, 2) memperluas daerahku, 3) menyertai aku, dan melindungi aku dari malapetaka, 4) kesakitan tidak menimpa aku. Dan kita harus memperkatakan firman ini, jika kita ingin Allah mengabulkan permintaan kita seperti Dia mengabulkan doa Yabes. Permintaan pertama adalah yang paling disukai, dan kita diajarkan untuk beriman mengenai berkat-berkat yang kita klaim, dan jika kita mengimani, maka Tuhan akan mengabulkan. Permintaan kedua bisa diartikan sebagai perluasan bisnis, pangsa pasar, peningkatan karir, dan yang sejenis dengan itu. Permintaan ketiga dan keempat sudah cukup jelas. Lalu biasanya ditutup dengan dorongan untuk memiliki iman dan keberanian yang sama seperti Yabes, yaitu iman dan keberanian yang menerobos sehingga meluluhkan hati Tuhan untuk tidak bisa berkata tidak terhadap doa kita. Hal ini sinkron dengan pesan dari penggagas awal dari ajaran tentang doa Yabes ini yaitu Bruce Wilkinson, seperti yang ia tulis di cover bukunya: “Are you ready... to ask God for the abundant blessings He longs to give you?” Ia mengajarkan tentang “unclaimed blessings” yaitu berkat-berkat yang sebenarnya telah disediakan Allah namun tidak sampai kepada kita karena kita tidak mengklaimnya. Meskipun Wilkinson bukanlah penganjur teologi kemakmuran, dan “berkat” yang ia maksudkan lebih kepada efektivitas yang lebih besar dalam pelayanan, namun tetap saja seperti permainan kata berantai, kata yang tiba di ujung sudah tidak sama dengan kata di awal. Lagipula para penganut teologi kemakmuran tidak bisa melihat bedanya ajaran ini dengan ajaran Word of Faith atau Klaim-Perkatakan-Terima yang selama ini mereka percayai.
Sebenarnya tidak lama sesudah Wilkinson menuliskan bukunya The Prayer of Jabez, banyak kritikan ditulis menanggapi isi buku ini yang dinilai telah mengajarkan egoisme dan ketamakan kepada begitu banyak orang percaya, memakai dua ayat Alkitab di atas untuk membenarkan nafsu mendapatkan uang dan harta yang berlimpah dan segala aspek kesuksesan menurut ukuran dunia. Bahkan penulis buku ini sendiri menurut kesaksian yang saya baca, tidak lama sesudah itu ia menyadari kesalahan yang telah ia buat di dalam bukunya ini, dan mengevaluasi kembali hidupnya, dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Afrika sebagai misionaris, melayani para penderita AIDS di sana, setelah ia melihat penderitaan yang begitu besar dialami oleh orang-orang di sana.
Hal kedua yang perlu bagi kita orang percaya untuk tidak menelan bulat-bulat ajaran ini adalah tentang doa yang seolah-olah akan selalu dikabulkan Tuhan jika kita sudah mencapai standar iman tertentu, apapun permintaan kita. Tuhan seperti mesin penjawab yang memiliki tombol dengan kode-kode rahasia, dan jika kita sudah tahu kode-kode itu maka mesin otomatis akan menjawab sesuai permintaan. Banyak sekali doktrin yang dilanggar di sini: tentang kedaulatan Allah, tentang rancangan Allah atas manusia, tentang prioritas dan tujuan hidup, tentang ketuhanan Kristus, dan sebagainya. Tuhan tidak perlu menjawab SETIAP doa kita, Dia tidak berkewajiban untuk itu. Kitalah yang berkewajiban untuk taat dalam menjawab panggilan-Nya dan menjadi pelaku firman-Nya. Dia adalah Tuhan dan kita adalah hamba, jangan pernah dibalik.
Hal terakhir yang patut dipikirkan adalah, bahwa meskipun doa Yabes adalah salah satu di antara doa-doa yang dicatat di dalam Perjanjian Lama, selain doa Yosua, Yefta, Daud dan lain-lain, namun ketika murid-murid Yesus meminta-Nya untuk mengajari mereka berdoa, Yesus tidak mengajarkan mereka doa Yabes atau yang lainnya itu. Yesus mengajarkan mereka DOA YESUS, yaitu doa Bapa kami. Yesus mengajarkan para murid tentang makna dan prinsip doa, bahwa yang harus selalu mendapat tempat utama dalam doa adalah Allah, dan kalaupun kita memiliki berbagai keinginan dan harapan di dalam doa kita, semuanya mesti tunduk pada otoritas dan kehendak-Nya.
Tentu saja kita harus tetap mempelajari arti penting dari doa Yabes ini. Jangan gara-gara ajaran yang salah, lalu kita melupakan dua ayat ini. Kebenaran tentang doa Yabes ini tidak pernah bisa berdiri sendiri dan lepas dari keseluruhan Alkitab kita. Itu artinya, kita tidak bisa mencomot dua ayat ini lalu mencoba memahaminya dengan pengertian kita sendiri, melainkan kita harus memahaminya dalam bingkai rencana keselamatan dari Allah melalui Kristus. Saya justru melihat, doa Yabes yang singkat ini tercakup dalam keseluruhan doa Bapa kami yang diajarkan Yesus. Mari kita perhatikan permintaannya yang pertama, "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah.” Jika kita menengok teks bahasa Ibrani, kita menemukan kata barak yang artinya berkat, ditulis ganda, barak barak, dan diterjemahkan oleh LAI dengan “memberkati berlimpah-limpah” Tetapi dalam banyak versi bahasa Inggris bagian ini diterjemahkan dengan “If you bless me indeed,” atau “Jika Engkau benar-benar memberkati aku.” Artinya, kita mendapatkan dari doa Yabes bahwa orang bisa saja menyebut sesuatu sebagai berkat, misalnya kekayaan, keluarga, karir, jabatan dsb, namun Yabes berdoa memohon kepada Allah untuk mendapatkan berkat yang benar-benar adalah berkat. Apakah itu? Itulah kehidupan yang dipimpin oleh Allah sendiri, dan kita mendapatkannya di dalam Kristus, karena Dia datang untuk memberi hidup yang berkelimpahan, yaitu kehidupan di dalam Dia (Yoh. 10:10b). Saya melihat baris pertama dari doa Yabes ini di dalam doa Yesus: “Bapa kami di dalam surga, dikuduskanlah nama-Mu.” Berkat yang benar-benar berkat adalah ketika kita hidup di dalam kekudusan Allah dan persekutuan yang indah dengan-Nya yang hanya dimungkinkan melalui Kristus. Hanya jika hidup kita ada dalam kuasa pimpinan Kristus, barulah kita memiliki barak barak itu, atau blessing indeed, berkat yang sejati.
Kemudian Yabes juga berdoa meminta Allah memperluas daerahnya. Hal ini pun senada dengan doa Yesus, “Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga.” Artinya, kita meminta agar Tuhan berkuasa dalam hidup kita sepenuhnya, dan memakai kita sebagai duta bagi kerajaan-Nya. "Perluaslah daerahku Tuhan,  dan yang terutama adalah perluaslah kapasitas hati ini agar aku bisa mengasihi seperti Engkau mengasihi, dan berbelas kasihan seperti Engkau berbelas kasihan terhadap jiwa-jiwa, sehingga dengan demikian aku bisa lebih banyak lagi mendapatkan murid-murid, dan membawa lebih banyak orang lagi kepada kemerdekaan di dalam Engkau."
Lalu Yabes memohon agar Tuhan menyertai dan melindunginya dari malapetaka. Tuhan mengajarkan kita di dalam doa Bapa kami tentang penyertaan-Nya yang tentu ditunjukkan juga dengan penyediaan-Nya: “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,” dan pengampunan-Nya: “Dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Dan kita tahu bahwa penyertaan Tuhan hanya ditujukan bagi orang-orang yang taat. Untuk mereka saja jaminan Tuhan Yesus ini diberikan: "Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat. 28:20b)
Terakhir, Yabes berdoa agar kesakitan tidak menimpanya. Menarik bahwa nama Yabes sendiri artinya adalah KESAKITAN, sebagaimana dijelaskan di 1 Tawarikh 4:9 di atas. Seolah-olah melalui doanya ini ia meminta agar Tuhan tidak menjadikan dia sesuai dengan nama yang disandangnya. Bukankah demikian juga kita, yang terlahir dalam dosa? Kita memohon kepada Tuhan agar dosa tidak melekat pada diri kita, agar kita dilepaskan dari dosa dan dari segala penderitaan akibat dosa. Itulah yang diajarkan Tuhan Yesus, “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat.”
Sekarang, setelah kita memahami maksud yang benar dari setiap perkataan dalam doa Yabes, baiklah kita pun berdoa demikian, namun tidak lagi dengan pengertian kita sendiri yang menyimpang, melainkan dengan melihatnya dalam terang doa yang diajarkan Yesus, doa Bapa kami.
_____
Print Friendly and PDF

Wednesday, December 7, 2016

Pengampunan Allah Akan Dosa Kita


Sahabat FresOn - Mengampuni dan melupakan” bunyi pepatah lama. Namun segampang itukah? Seorang anak lelaki yang baru dicampakkan pacarnya berkata "Dia telah begitu melukai perasaan saya. Bagaimana saya dapat memaafkan segala perbuatannya padaku? "Seorang gadis yang dilecehkan secara seksual oleh ayahnya selama bertahun-tahun berkata, "Mengapa saya harus memaafkan perbuatan tersebut?". Seorang pengedar obat bius yang ingin merubah jalan hidupnya berkata, "Apakah Tuhan benar-benar akan mengampuni segala perbuatan yang pernah kulakukan? Kebutuhan Untuk Diampuni Allah membenci dosa; Dia tidak tahan melihat keburukannya. Karena itu dosa yang tidak diakui dalam hidup kita merintangi dan merusak hubungan kita dengan Allah. "Sesungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaraNya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:1-2) Bukan hanya tidak adanya pengampunan yang merintangi kita dan Allah, hal itu juga merusak hubungan kita dengan orang lain. "Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara menceraikan sahabat yang karib" (Amsal 17:9) Kebutuhan Akan Pengampunan Karena Allah membenci dosa, harga sebuah pengampuanan sangatlah tinggi. Injil menuliskan beberapa syarat untuk pengampunan: Pengorbanan. Ibrani 9:22 berkata tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan." Dalam Perjanjian Lama diperlukan korban domba yang tak bercacat untuk meredakan murka Allah. Yesus, Anak Allah yang tak berdosa, mati di kayu salib dan menjadi korban penebusan dosa. Yesus membayar pengampunan bagi kita ketika mati di salib. "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar supaya Ia membawa kita kepada Allah." (1 Petrus 3:18a) "Sebab di dalam Dia dan oleh darahNya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kasih karuniaNya." (Efesus 1:7) Mengampuni sesama. Syarat untuk pengampunan dosa adalah mengampuni sesama. 1 Korintus 13:5 berkata "kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain". Ingat bahwa Amsal 17:9 mengajarkan pada kita bahwa sahabat sejati mengampuni. Allah juga menjadikan mengampuni sesama sebagai syarat untuk menerima pengampunan dariNya. "Karena jika kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tapi jika kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14,15) "Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32) Pengakuan Dosa Kita harus mengakui dosa kita pada Allah jika ingin hubungan kita dengan Dia dipulihkan. Melihat pada kebutuhan akan pengampunan, kita mengetahui dosa yang tidak diakui dapat memisahkan hubungan kita dengan Allah. Pengakuan adalah jalan untuk memulihkan hubungan kita dengan Allah, karena walau kita tidak setia, Ia tetap setia (2 Timotius 2:13). "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni sehala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yoh 1:9) Bertobat. Kita harus memutuskan untuk berubah, berpaling dari dosa kita. "Karena itu beginilah jawab Tuhan :"Jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan engkau menjadi pelayan dihadapanKu." (Yeremia 15:19a) Hasil dari Pengampunan. Alkitab menjanjikan kebaikan atas pengampuan Allah: Kebahagiaan. Ketika tahu bahwa Tuhan mengampuni kita diberkati (bahagia). "Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi. Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan dan yang tidak berjiwa penipu." (Mazmur 32:1-2) Allah memilih untuk tidak memperhitungkan dosa kita. Hasil dari pengampunan adalah Allah tidak mengingat kesalahan kita. Dia tidak menyimpannya untuk mendakwa kita. Karena darah Kristus telah menutupi dosa kita, Allah tidak mengingat-ingat dosa kita. "Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu." (Yesaya 43:25) Allah mengangkat kita dari dosa. "Sejauh timur dari barat, demkian dijauhkanNya dari pada kita pelanggaran kita" (Mazmur 103:12) Kita dapat mengampuni diri sendiri. Saat kita diampuni, kita dapat mengampuni diri sendiri dan meneruskan hidup kita. "Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku, dan berlari-lari pada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus." (Filipi 3:13,14).
Print Friendly and PDF

Berlanganan