Saturday, February 25, 2017

Tentang Perceraian


Tentang Perceraian. Pertama, mari kita lihat Matius 19.
Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" 4 Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? 5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
7 Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" 8 Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. 9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."
Perlu kita catat bahwa di dalam Alkitab, pertanyaan “Bolehkah bercerai?” memiliki dua muatan negatif. Pertama, pertanyaan itu diajukan oleh orang-orang Farisi yang notabene adalah musuh Yesus. Kedua, pertanyaan itu diajukan untuk mencobai Yesus. Jadi kita bisa menduga bahwa di dalam pertanyaan tersebut telah banyak aspek penting yang dihilangkan oleh orang-orang Farisi ini—oleh karena hati mereka yang jahat—terutama adalah aspek firman, kasih dan perjanjian. Alih-alih menjawab pertanyaan mereka yang negatif itu, Yesus membawa pendengar-Nya kepada makna pernikahan yang sudah tertulis di dalam firman-Nya: “TIDAKKAH KAMU BACA...?
Jadi hal utama yang harus kita ingat adalah, meskipun ada sebagian manusia menghendaki perceraian, tetapi Allah membenci perceraian. Maleakhi 2:16 menegaskan hal ini. Larangan “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia,” itu sama kuatnya dengan larangan Allah terhadap Adam dan Hawa, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya, kecuali pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, JANGAN kaumakan buahnya.” Pernikahan adalah ide Allah (perhatikan frase “apa yang telah dipersatukan Allah”), itu berarti perceraian adalah secara langsung melawan ide-Nya.
Allah begitu menghargai pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Pertama karena pernikahan adalah manifestasi kasih yang paling kuat dan paling mampu menggambarkan kasih Allah Tritunggal. Ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, Dia menciptakan mereka dalam kejamakan pribadi-Nya, “Baiklah KITA menjadikan manusia menurut gambar dan rupa KITA...” Tentu Allah berharap agar di dalam kehidupan suami isteri ini kelak, kasih Tritunggal itu, yaitu kasih antara Bapa, Anak dan Roh Kudus, kini dapat diteruskan di dalam diri manusia, dengan menyatunya laki-laki dan perempuan dalam sebuah pernikahan kudus. “Inilah dia, tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan (Ibr.: ishah), sebab ia diambil dari laki-laki (Ibr.: ish)” (Kej. 2:23). Tuhan berharap bahwa seperti yang Dia katakan, “Aku dan Bapa adalah satu,” Dia bisa melihat hal yang serupa di dalam diri suami isteri, yaitu dua pribadi yang “bukan lagi dua, melainkan satu.”
Kedua, karena pernikahan antara suami dan isteri adalah gambaran yang sempurna dan paling indah tentang hubungan antara Kristus dan gereja-Nya. “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah HUBUNGAN KRISTUS DAN JEMAAT.” (Efesus 5:31-32). Tentu saja yang dimaksudkan dengan hubungan di sini adalah hubungan yang penuh kasih dan persekutuan, sehati dan satu tujuan. Rumah tangga yang dipenuhi konflik, suami yang kasar terhadap isterinya atau isteri yang kurang ajar terhadap suaminya, tentu tidak bisa dijadikan gambaran tentang hubungan Kristus dan jemaat. Apalagi rumah tangga yang di ambang perceraian, itu sungguh jauh dari rencana Tuhan untuk dapat dijadikan gambaran hubungan-Nya dengan jemaat. Persamaan utama dari hubungan Kristus-Jemaat dan hubungan suami-isteri adalah bahwa hubungan ini terjadi atas dasar covenant atau perjanjian, di mana masing-masing pihak saling mengikatkan diri di bawah sumpah untuk berlaku setia terhadap perjanjian yang dibuatnya. Ketika seorang suami atau isteri memilih untuk merusak perjanjian nikah mereka, maka hal itu pastilah sangat mendukakan hati Allah yang kepada-Nya sumpah perjanjian itu dibuat.
Dengan memperhatikan makna hubungan suami isteri di atas, menjadi jelas bagi kita bahwa perceraian adalah kata yang harus dibuang jauh-jauh dari kamus keluarga Kristen. Perceraian bukanlah opsi bagi pasutri Kristen. Kalaupun saudara mengatakannya sebagai opsi, itu mestinya adalah opsi terburuk dari yang terburuk yang sangat terpaksa diambil. Mari kita kembali ke Matius 19 di atas. Orang Farisi menanyakan perceraian, Tuhan Yesus menjelaskan pernikahan. Bagi saya hal ini sangat penting untuk kita pahami. Ketika Allah menyatukan dua pribadi ke dalam ikatan pernikahan, sehingga “mereka bukan lagi dua, melainkan satu,” Allah menghendaki agar kesatuan atas dasar kasih itu benar-benar mereka alami sejak awal mengucapkan janji nikah sampai maut memisahkan mereka. Rumah tangga yang dipimpin Kristus, yang tunduk pada  pengajaran firman-Nya dan yang melakukan panggilannya untuk melayani Tuhan, sudah tentu akan menjadi rumah tangga yang indah dan penuh kasih, sehingga suami atau isteri tidak akan pernah berpikir sedikitpun untuk bercerai dari pasangannya, sama seperti Tuhan Yesus yang tidak pernah sedikitpun terbersit dalam pikiran-Nya untuk berpisah dari Bapa-Nya.
Sebaliknya rumah tangga yang tidak dipimpin Kristus, yang tidak peduli akan firman-Nya, dan yang masing-masing mempertahankan karakter duniawinya yang sangat mudah melukai pasangannya, pastilah menjadi rumah tangga yang tidak ada damai di dalamnya. Bagi rumah tangga Kristen seperti ini, mereka seperti hidup dalam penjara yang tidak bisa dibuka, karena gemboknya adalah firman Tuhan, “Apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia.” Yang salah di sini bukan gemboknya, tetapi pasangan itu sendiri yang menciptakan suasana penjara itu dalam rumah tangga mereka. Tuhan telah menyediakan istana untuk kita tinggali, tetapi mengapa kita memilih untuk tinggal dalam penjara? Datanglah kepada Tuhan dalam pertobatan jika rumah tangga saudara tidak memiliki damai, Dia sanggup mengubahkan penjara itu menjadi istana, sehingga seumur hidup saudara akan betah hidup dengan pasanganmu.
Sekarang mengenai bercerai karena zinah, kita membaca di dalam Matius 19, bahwa setelah Tuhan Yesus menjelaskan tentang pernikahan, orang-orang Farisi malah kembali memaksakan keinginan mereka tentang perceraian kepada Yesus: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" Perhatikan jawaban Yesus: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.” Karena ketegaran hatimu berarti karena dosa yang berkuasa, maka diberikanlah izin untuk bercerai, dengan tujuan untuk menjamin hak-hak dari mereka yang diceraikan. TETAPI SEJAK SEMULA TIDAKLAH DEMIKIAN, lanjut Tuhan. Artinya jelas, bahwa Allah tidak pernah merancangkan perceraian pada mulanya. Perceraian ada karena dosa, bukan karena rancangan-Nya.
Lalu Tuhan berkata, “Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” Kita melihat pernyataan yang senada di Matius 5:32: “Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.” Apakah saudara dapat menangkap penekanan Tuhan di dua ayat ini? Ya, Tuhan menekankan tentang perceraian sebagai sebab dan berbuat zinah sebagai akibat, bukan sebaliknya. Itu artinya sebagai dosa, perceraian sangat mungkin membawa orang dan pasangannya kepada dosa berikutnya yaitu dosa zinah. Perceraian tidak membawa kebaikan, melainkan keburukan semata-mata.
Jadi, kita telah melihat bahwa zinah sebagai penyebab perceraian bukanlah yang ditekankan Yesus. Tetapi bagaimana jika hal ini terjadi? Isteri atau suami yang berselingkuh, adanya PIL atau WIL? Untuk kasus seperti ini pun, perceraian bukanlah opsi satu-satunya, melainkan opsi terakhir dan terburuk yang terpaksa diambil. Tuhan telah mengajarkan kita pengampunan. “dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami” (Lukas 11:4a). Mengampuni adalah opsi terbaik dan yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan. Sebagaimana Kristus telah mengampuni kita, bukankah ini kesempatan yang paling indah untuk mengampuni pasangan kita, sehingga kita bisa mengalami seperti apakah kuasa pengampunan itu bekerja, meskipun mungkin itu tidak mudah. Bagi pihak yang diampuni, ini juga adalah kesempatan terbaik untuk berubah, meninggalkan masa lalu yang buruk dan mulai hidup dalam takut akan Tuhan dan kasih yang telah diperbaharui terhadap pasangan.
Mintalah Tuhan untuk hadir dan memimpin rumah tangga saudara setiap hari, maka rumah tangga saudara akan menjadi surga kecil di bumi, penuh kasih, kebenaran, damai dan sukacita di dalamnya. Perceraian ​akan menjadi seperti makhluk asing yang tidak pernah saudara kenal.
Print Friendly and PDF
Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: Tentang Perceraian
Ditulis Oleh Sky Geth
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih

Peraturan Berkomentar Di Blog Ini !

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang sopan, santun, baik.
- Dilarang keras komentar Sara,Pornografi,Kekerasan,Pelecehan.
- Berkomentarlah yang berhubungan dengan topik ( no OOT)
Terima Kasih

Berlanganan