Sabtu, 05 Agustus 2017

Batu dan Mutiara

Sahabat FresOn | |


Batu  dan   Mutiara

Pada suatu ketika , hiduplah seorang pedagang batu-batuan. Setiap hari beliau berjalan dari kota ke kota untuk memperdagangkan barang-barangnya itu. Ketika beliau sedang berjalan menuju ke suatu kota , ada suatu watu kecil di pinggir jalan yang menarik hatinya. Batu itu tidak bagus , garang , dan tidak mungkin untuk dijual. Namun pedagang itu memungutnya dan menyimpannya dalam sebuah kantong , dan kemudian pedagang itu meneruskan perjalanannya. Setelah lama berjalan , lelahlah pedagang itu , kemudian beliau beristirahat sejenak.
Selama beliau beristirahat , beliau membuka kembali bungkusan yang berisi watu itu. Diperhatikannya watu itu dengan seksama , kemudian watu itu digosoknya dengan hati-hati watu itu. Karena kesabaran pedagang itu , watu yang semula buruk itu , sekarang terlihat cantik dan mengkilap. Puaslah hati pedagang itu , kemudian beliau meneruskan perjalanannya.
Selama beliau berjalan lagi , tiba-tiba beliau melihat ada yang berkilau-kilauan di pinggir jalan. Setelah diperhatikan , ternyata itu ialah sebuah mutiara yang indah. Alangkah senangnya hati pedagang tersebut , mutiara itu diambil dan disimpannya tetapi dalam kantong yang berbeda dengan kantong daerah watu tadi. Kemudian beliau meneruskan perjalanannya kembali.
Adapun si watu kecil itu merasa bahwa pedagang itu begitu memperhatikan dirinya , dan beliau merasa begitu bahagia. Namun pada suatu ketika mengeluhlah watu kecil itu kepada dirinya sendiri. “Tuan begitu baik padaku , setiap hari gue digosoknya walaupun gue ini hanya sebuah watu yang jelek , namun gue merasa kesepian. Aku tidak mempunyai sahabat seorangpun , seandainya saja Tuan menunjukkan kepadaku seorang teman”.
Rupanya keluhan watu kecil yang malang ini didengar oleh pedagang itu. Dia merasa kasihan dan kemudian beliau berkata kepada watu kecil itu “Wahai watu kecil , gue mendengar keluh kesahmu , oke gue akan menunjukkan kepadamu sesuai dengan yang engkau minta”. Setelah itu kemudian pedagang tersebut memindahkan mutiara cantik yang ditemukannya di pinggir jalan itu ke dalam kantong daerah watu kecil itu berada.

Dapat dibayangkan betapa senangnya hati watu kecil itu mendapat sahabat mutiara yang cantik itu. Sungguh betapa tidak disangkanya , bahwa pedagang itu akan menunjukkan miliknya yang terbaik kepadanya. Waktu terus berjalan dan si watu dan mutiara pun berteman dengan akrab. Setiap kali pedagang itu beristirahat , beliau selalu menggosok kembali watu dan mutiara itu.
Namun pada suatu ketika , setelah simpulan menggosok keduanya , tiba-tiba saja pedagang itu memisahkan watu kecil dan mutiara itu. Mutiara itu ditempatkannya kembali di dalam kantongnya semula , dan watu kecil itu tetap di dalam kantongnya sendiri. Maka sedihlah hati watu kecil itu. Tiap-tiap hari beliau menangis , dan memohon kepada pedagang itu biar mengembalikan mutiara itu bersama dengan dia. Namun seperti pedagang itu tidak mendengarkan dia.
Maka putus asalah watu kecil itu , dan di tengah-tengah keputusasaannya itu , berteriaklah beliau kepada pedagang itu “Oh tuanku , mengapa engkau berbuat demikian ? Mengapa engkau mengecewakan gue ?”
Rupanya keluh kesah ini didengar oleh pedagang watu tersebut. Kemudian beliau berkata kepada watu kecil itu “Wahai watu kecil , kau telah kupungut dari pinggir jalan. Engkau yang semula buruk kini telah menjadi indah. Mengapa engkau mengeluh? Mengapa engkau berkeluh kesah? Mengapa hatimu berduka ketika gue mengambil mutiara itu daripadamu? Bukankah mutiara itu miliku , dan gue bebas mengambilnya setiap ketika menurut kehendakku? Engkau telah kupungut dari jalan , engkau yang semula buruk kini telah menjadi indah.
Ketahuilah bahwa bagiku , engkau sama berharganya menyerupai mutiara itu , engkau telah kupungut dan engkau kini telah menjadi milikku juga. Biarlah gue bebas menggunakanmu sekehendak hatiku. Aku tidak akan pernah membuangmu kembali”.
Yang dimaksud dengan watu kecil itu ialah kita-kita semua , sedangkan pedagang itu ialah Allah sendiri. Kita semua ini buruk dan hina di hadapanNya , namun alasannya ialah kasihnya itu Dia memoles kita , sehingga kita dijadikannya cantik di hadapanNya. Sedangkan yang dimaksud dengan mutiara itu ialah berkat Allah bagi kita semua. Siapa yang tidak senang mendapatkan berkat? Berkat itu dapat berupa apa saja dalam kehidupan kita sehari-hari , mungkin berupa kegembiraan , kesehatan , orangtua , saudara dan sahabat , dan banyak lagi.
Apakah kita pernah bersyukur , setiap kali kita mendapat berkat itu? Dan apakah kita tetap bersyukur , jikalau seandainya Allah mengambil semuanya itu dari kita? Bukankah semua itu milikNya dan Ia bebas mengambilnya kembali kapanpun Ia mau? Bersyukurlah selalu kepadaNya , alasannya ialah Dia tidak akan pernah mengecewakan kita semua.

Amin

Print Friendly and PDF
Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: Batu dan Mutiara
Ditulis Oleh Sky Geth
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih

Peraturan Berkomentar Di Blog Ini !

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang sopan, santun, baik.
- Dilarang keras komentar Sara,Pornografi,Kekerasan,Pelecehan.
- Berkomentarlah yang berhubungan dengan topik ( no OOT)
Terima Kasih

Berlanganan