Wednesday, August 9, 2017

Catatan Harian Seorang Pramugari dari China

Sahabat FresOn | |


Pramugari dari China
Saya yakni pramugari biasa dari China Airline. Karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan , setiap hari saya hanya melayani penumpang dan melaksanakan pekerjaan yang monoton. Pada 7 Juni yang lalu saya mengalami pengalaman yang mengubah pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.

Seorang kakek dari desa
Hari itu jadwal perjalanan kami dari Shanghai menuju Peking. Penumpang sangat penuh. Di antara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa , merangkul sebuah karung renta dan terlihat terang sekali gaya desanya. Saat itu saya yang bangun di pintu pesawat menyambut penumpang. Kesan pertama dalam pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju sehingga seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Pelayanan dipesawat
Ketika pesawat sudah terbang , kami mulai menyajikan minuman.  Ketika melewati baris ke 20 , saya melihat kembali kakek renta tersebut. Dia duduk dengan tegak dan kaku di daerah duduknya dengan memangku karung renta bagaikan patung. Kami menanyakannya mau minum apa. Dengan terkejut ia melambaikan tangan menolak. Saat kami hendak membantunya meletakkan karung renta di atas bagasi daerah duduk , juga ditolak olehnya. Lalu kami membiarkannya du­duk dengan tenang.


Menjelang pembagian makanan , kami melihat ia duduk dengan tegang di daerah duduknya. Kami menunjukkan makanan , juga ditolak olehnya. Akhirnya kepala pramugari dengan dekat bertanya kepadanya apakah ia sakit. Dengan bunyi kecil ia menjawab bahwa ia hendak ke toilet , tetapi takut apakah di pesawat boleh bergerak sembarangan. Dia takut merusak barang dalam pesawat. Kami menjelaskan kepadanya bahwa ia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar ia ke toilet.

Saat menyajikan minuman yang kedua kali , kami melihat ia melirik penumpang di sebelahnya dan menelan ludah. Dengan tidak menanyakannya kami meletakkan segelas minuman teh di mejanya. Ternyata gerakan kami mengejutkannya. Dengan terkejut ia mengatakan tidak usah. Kami mengatakan bahwa ia sudah haus dan memintanya minum tehnya. Dengan spontan ia mengeluarkan segenggam uang logam dari sakunya dan menyodorkannya kepada kami. Kami menjelaskan kepadanya bahwa minumannya gratis. Dia tidak percaya.

Cerita kakek
Dia berkata bahwa dalam perjalanan menuju bandara , ia merasa haus. Dia meminta air kepada penjual makanan di pinggir jalan , tetapi tidak diladeni dan malah diusir. Saat itu kami mengetahui , bahwa demi menghemat biaya perjalanan dari desa , ia berjalan kaki hingga mendekati bandara gres naik mobil. Karena uang yang dibawa sangat sedikit , ia hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan di pinggir jalan. Itu pun kebanyakan ditolak dan ia dianggap sebagai pengemis.

Setelah kami membujuk ia terakhir kali barulah ia percaya dan duduk dengan hening meminum secangkir teh. Kami menunjukkan makanan , tetapi ditolak olehnya. Dia menceritakan bahwa ia mempunyai dua putra yang sangat baik. Putra sulungnya sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah di tingkat tiga di Peking. Anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota. Tetapi , kedua orang renta tersebut tidak biasa tinggal di kota dan risikonya pindah kembali ke desa. Sekali ini orang renta tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking. Anak sulungnya tidak tega melihat ia naik kendaraan beroda empat begitu jauh sehingga membelikan tiket pesawat dan menawarkannya untuk menemani bapaknya bahu-membahu ke Peking. Tetapi si ayah menolaknya karena dianggap terlalu boros. Dia bersikeras pergi sendiri. Akhirnya dengan terpaksa anaknya menyetujui keputusannya itu.

Dia merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya. Ketika melewati pemeriksaan keamanan di bandara , petugas menyuruhnya menitipkan karung tersebut di daerah bagasi. Tetapi , ia bersikeras membawa sendiri. Dia mengatakan jikalau ditaruh di daerah bagasi , ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur. Akhirnya kami membujuknya untuk meletakkan karung tersebut di atas bagasi daerah duduk. Akhirnya ia bersedia dan dengan hati-hati meletakkan karung tersebut.

Ucapan terima kasih yang ikhlas
Saat dalam penerbangan , kami terus menambah minuman untuknya. Dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus. Dia tetap tidak mau makan , meskipun kami mengetahui bahwa bekerjsama ia sudah sangat lapar. Saat pesawat hendak mendarat dengan bunyi kecil ia menanyakan apakah ada kantong kecil dan meminta saya meletakkan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa ia belum pernah melihat makanan yang begitu enak. Dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya. Kami semua sangat kaget. Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa , di mata seorang desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar , ia menyisihkan makanan tersebut untuk anaknya. Dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang. Setelah menaruhnya dalam suatu kantong , makanan itu kami berikan kepada kakek tersebut. Di luar dugaan ia menolak bantuan kami. Dia hanya menghendaki bagiannya yang belum dimakan , tetapi tidak menghendaki yang bukan miliknya. Perbuatan yang ikhlas tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu. Tetapi , siapa menerka dikala semua penumpang sudah turun dari pesawat , ia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat. Sebelum keluar , ia melaksanakan sesuatu hal yang sangat tidak mampu saya lupakan seumur hidup saya.

Dia berlutut untuk mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi. Dia mengatakan bahwa kami semua yakni orang paling baik yang dijumpainya. Kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak. Hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik. Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian ," ia mengucapkannya sambil menangis. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seorang anggota yang bekerja di lapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.

Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari , beragam penumpang sudah saya jumpai. Ada yang banyak tingkah , yang banya mulut , dan lain-lain. Tetapi , saya belum pernah menjumpai orang yang mengucapkan terima kasih dengan tidak biasa kepada kami. Kami hanya menjalankan peran kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan. Kami hanya menyajikan minuman dan makanan , tetapi kakek renta yang berumur 70 tahun tersebut mengucapkan terima kasih yang tidak biasa , sambil merangkul karung renta yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta , dan tidak bersedia mendapatkan makanan yang bukan bagiannya. Tindakan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya pada masa datang yaitu , jangan memandang orang dari penampilan luar , tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.

Catatan:
Mengapa kisah tersebut mampu begitu dramatis? Paling tidak ada tiga penyebab. Pertama , kita sudah terbiasa hidup di lingkungan yang kurang bersyukur. Kedua , kita terbiasa bekerja tanpa hati. Ketiga , tindakan yang kita anggap wajar , menurut standard Tuhan menjadi luar biasa. "Mengucap syukurlah dalam segala hal , karena itulah yang dikehendaki Yang Mahakuasa di dalam Kristus Yesus bagi kamu."

kisah catatan harian seorang pramugari yang di posting oleh Pelangi Kasih Ministry ini  memberkati hidup saya , sehingga kami juga bagikan disini.  Kita diberkati untuk memberkati.
Print Friendly and PDF
Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: Catatan Harian Seorang Pramugari dari China
Ditulis Oleh Sky Geth
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih

Peraturan Berkomentar Di Blog Ini !

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang sopan, santun, baik.
- Dilarang keras komentar Sara,Pornografi,Kekerasan,Pelecehan.
- Berkomentarlah yang berhubungan dengan topik ( no OOT)
Terima Kasih

Berlanganan