Friday, August 25, 2017

HARI SABAT TUHAN

Sahabat FresOn | |
Sabat (Ibrani: shabbath) yakni dimulai dari hari Jumat sore (matahari terbenam) hingga Sabtu sore (matahari terbenam). Dan secara prinsip , Tuhan menginginkan insan untuk menyembah-Nya secara khusus , karena Tuhan yakni Pencipta dan Pemelihara kehidupan. Sabat , hari ke tujuh dalam penciptaan , yakni hari khusus yang diberkati dan dikuduskan oleh Tuhan , karena Tuhan berhenti dari segala pekerjaan ciptaan yang telah dibuat-Nya (lih. Kej 2:2-3; Kel 20:11). Karena Sabat yakni hari yang dikuduskan oleh Tuhan , maka Tuhan melarang umat-Nya untuk bekerja pada hari Sabat (Kel 20:9-11). Sabat merupakan tanda peringatan antara insan dengan Tuhan dan menjadikannya perjanjian infinit (lih. Kel 31:13; Kel 31:16; Kel 31:17). Lebih lanjut Tuhan juga memerintahkan untuk memelihara hari Sabat (Im 19:3 , Im 19:30) dan yang melanggar hari Sabat dihukum mati (lih. Kel 31:14; Kel 31:15; Bil 15:32-36). Dari ayat-ayat tersebut di atas , dan masih banyak ayat-ayat yang lain , hari Sabat memang ditentukan oleh Tuhan sendiri yang harus dijalankan oleh umat-Nya secara turun-temurun.


Kita masih mengingat bahwa Yesus sendiri beberapa kali berdebat dengan kaum Farisi yang menunjukkan beban yang tak tertanggungkan kepada insan (Mat 23:4) dan kemudian Yesus menyatakan bahwa hari Sabat dibuat untuk insan , bukan sebaliknya (Mrk 2:27). 
Yesus sendiri menyembuhkan orang pada hari Sabat dan membela muridnya ketika mereka mengambil makanan di ladang , dan Yesus mengutip perihal apa yang dilakukan oleh Daud (Mat 12:3; Mrk 2:25; Luk 6:3; Luk 14:5). 
Lebih lanjut , Rasul Paulus menegaskan bahwa hari Sabat tidak mengikat umat Nasrani (Kol 2:16; Gal 4:9-10; Rom 14:5-6). Demikian pula Rasul Yohanes menuliskan wahyu yang diterimanya pada hari Tuhan (Why 1:10).

Kebangkitan Tuhan yakni menjadi pokok iman Nasrani dan kebangkitan Yesus terjadi pada hari Minggu , yang disebut sebagai hari pertama di dalam ahad (Luk 24:1). Setelah kebangkitan-Nya , Tuhan Yesus menampakkan diri dalam perjalanan ke Emmaus , dan melaksanakan pemecahan roti di depan murid-murid-Nya pada hari kebangkitan-Nya , yaitu hari Minggu , hari pertama ahad itu (Luk 24:13-35 , Luk 24:1). 
Jemaat Nasrani perdana yang non Yahudi merayakan hari Tuhan pada hari Minggu (Kis 20:7; 1 Kor 16:2). Selanjutnya , maka perayaan Hari Tuhan bagi umat Nasrani yakni hari Minggu yang dikatakan sebagai hari pertama di dalam ahad , dan bukan hari terakhir dalam ahad (bukan Sabat).

Lalu apa alasan orang Nasrani untuk mengubah Sabat dari Sabtu menjadi Minggu?

Dasar dari Kitab Suci perihal perayaan Hari Minggu sebagai Hari Tuhan
Kristus bangun pada hari Minggu , dan 2 x Ia menampakkan diri setelah kebaktian , juga pada hari Minggu.
Kebangkitan Yesus Kristus dari simpulan hidup terjadi pada “hari pertama setelah hari Sabat” (Mrk 16:2 , 9; Luk 24:1; Yoh 20:1). Pada hari yang sama , Tuhan yang bangun menampakkan diri kepada dua orang murid ke Emaus (lih. Luk 24:13-35) dan kepada kesebelas Rasul yang berkumpul bersama (cf. Luk 24:36; Yoh 20:19).
 Seminggu kemudian menyerupai yang dihitung oleh Bibel Yohanes (lih. Yoh 20:26)-  para murid berkumpul kembali sekali lagi , ketika Yesus menampakkan diri kepada mereka dan membuat-Nya dikenali oleh Tomas , dengan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda dari Sengsara-Nya. 
Hari Pentakosta -hari pertama dari delapan ahad setelah Paska Yahudi (lih. Kis 2:1) , ketika kesepakatan yang dibuat oleh Yesus kepada para Rasul setelah Kebangkitan-Nya digenapi dengan pencurahan Roh Kudus (lih. Luk 24:49; Kis1:4-5)- juga terjadi pada hari Minggu. 
Ini yakni hari proklamasi yang pertama dan Baptisan yang pertama: Petrus mengumumkan kepada orang-orang yang berkerumun bahwa Kristus telah bangun dan “mereka yang mendapatkan sabda-Nya dibaptis” (Kis 2:41). Ini yakni hari epifani Gereja , dinyatakan sebagai bangsa yang di dalamnya bawah umur Tuhan yang terpencar dikumpulkan dalam kesatuan , melampaui semua perbedaan mereka.

untuk alasan ini maka semenjak dari zaman para Rasul , “hari pertama setelah hari Sabat” , hari pertama ahad , mulai membentuk ritme kehidupan bagi para rasul Kristus (lih. 1Kor 16:2). “Hari pertama setelah hari Sabat” yakni juga hari di mana jemaat di Troas berkumpul “untuk memecahkan roti” , ketika Paulus mengucapkan perpisahan dan secara mukjizat menghidupkan Eutikhus kembali (lih. Kis 20:7-12). Kitab Wahyu menunjukkan bukti praktek untuk menyebut hari pertama ahad sebagai “Hari Tuhan” (Why 1:10). 
Ini kini menjadi sebuah ciri yang membedakan umat Nasrani dari dunia di sekitar mereka… Dan ketika umat Nasrani menyebut “Hari Tuhan” , mereka menunjukkan kepada istilah ini arti yang penuh dari pemberitaan Paskah: “Yesus Kristus yakni Tuhan” (Flp 2:11; lih. Kis 2:36; 1Kor 12:3). Maka Kristus diberi gelar yang sama , yang oleh kitab Septuaginta biasanya digunakan untuk menerjemahkan apa yang dalam wahyu Perjanjian Lama yakni nama Tuhan yang melampaui segala ucapan: YHWH.

Di masa Nasrani awal , ritme mingguan dari hari-hari , umumnya tidak menjadi episode kehidupan di daerah di mana Bibel tersebar , dan hari-hari perayaan kalender Yunani dan Romawi tidak bertepatan dengan hari Minggu-nya umat Kristen. Maka , untuk umat Nasrani , yakni sangat sulit untuk melaksanakan/ menerapkan Hari Tuhan pada suatu hari tertentu dalam setiap minggu. Hal ini menjelaskan mengapa umat beriman harus berkumpul sebelum matahari terbit. Namun demikian kesetiaan terhadap ritme mingguan kemudian menjadi norma , karena hal itu berdasarkan atas Perjanjian Baru dan berkaitan dengan wahyu Perjanjian Lama. Ini sungguh digarisbawahi oleh para Apologist dan para Bapa Gereja dalam tulisan-tulisan dan khotbah mereka , di mana dalam mengatakan Misteri Paska , mereka menggunakan teks Kitab Suci yang sama , yang menurut kesaksian St. Lukas (lih. Luk 24:27 , 44-47) , Kristus yang bangun sendiri telah menjelaskan kepada para murid. Menurut terang teks-teks ini , perayaan hari Kebangkitan tersebut memperoleh nilai doktrinal dan simbolis yang bisa menyatakan keseluruhan misteri Kristiani dalam segalanya yang baru.

Para Rasul , secara khusus St. Paulus , pada awalnya terus hadir di sinagoga sehingga di sana mereka dapat mewartakan Yesus Kristus , menjelaskan “perkataan nabi-yang dibacakan setiap hari Sabat” (Kis 13:27). Sejumlah komunitas [jemaat] melaksanakan Sabat sementara juga merayakan hari Minggu. Namun demikian , segera , kedua hari mulai dibedakan dengan lebih terperinci , utamanya sebagai reaksi terhadap tuntutan sejumlah orang Nasrani yang berasal dari kaum Yahudi , yang membuat mereka cenderung untuk mempertahankan kewajiban hukum Taurat yang lama …. Pembedaan hari Minggu dari Sabat Yahudi bahkan bertumbuh lebih besar lengan berkuasa dalam pemahaman Gereja , meskipun terdapat masa dalam sejarah , ketika , karena kewajiban istirahat Minggu begitu ditekankan , sehingga Hari Tuhan cenderung menjadi menyerupai dengan hari Sabat. Tambahan lagi , terdapat kelompok-kelompok dalam kalangan Nasrani yang melaksanakan baik Sabat maupun Minggu sebagai “dua hari yang bersaudara.”

Perbandingan hari Minggu Nasrani dengan hari Sabat menurut visi Perjanjian Lama mendorong besarnya perhatian pandangan-pandangan teologis. Secara khusus , di sana timbul kaitan yang unik antara Kebangkitan dan Penciptaan. Pandangan Nasrani secara spontan menghubungkan Kebangkitan Kristus , yang terjadi “di hari pertama ahad itu” , dengan hari pertama dari hari kosmik (lih. Kej 1:1-24) yang membentuk dongeng Penciptaan di Kitab Kejadian: hari penciptaan terang (lih. Kej 1:3-5). Kaitan ini mengundang sebuah pemahaman Kebangkitan sebagai awal dari ciptaan yang gres , buah-buah sulung yang tentangnya Kristus yang mulia yakni , “yang sulung dari segala ciptaan” (Kol 1:15) dan “yang sulung dari antara orang mati” (Kol 1:18).

.................... “Hari Sabat yakni simpulan dari penciptaan yang pertama , sedangkan hari Tuhan yakni awal dari penciptaan yang kedua , di mana Ia memperbaharui dan memperbaiki yang lama , dengan cara yang sama menyerupai Ia menentukan bahwa mereka harus menerapkan Sabat sebagai peringatan akan simpulan dari penciptaan pertama , maka kita menghormati hari Tuhan sebagai peringatan akan penciptaan yang baru.” ( St. Athanasius , On Sabbath and Circumcision 3 )

Beberapa keberatan dan tanggapan seputar hari Sabat dan hari Minggu

1. Kis 20:7 mengambarkan tidak ada ibadah pada hari Minggu?
Ada sejumlah orang berargumen bahwa Kis 20:7 dan ayat-ayat selanjutnya menunjukkan bahwa pemecahan roti yang dilakukan oleh Rasul Paulus itu yakni program makan-makan biasa dan bukan ibadah , dan bahwa hal memecah roti itu terjadi dua kali , sebelum Eutikhus jatuh dan dilanjutkan lagi setelah Eutikhus jatuh dan dihidupkan kembali. Benarkah demikian?
Untuk mengetahui apakah pertemuan itu merupakan ibadah atau bukan , kita melihat kepada bahasa asli yang digunakan pada ayat itu:

“Pada hari pertama dalam ahad itu , ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti , Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ , karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung hingga tengah malam.” (Kis 20:7)
Kata kerja ‘berkumpul‘ yang digunakan di sana yakni ‘synaxis‘ (dari kata synago , serupa dengan kata sinagoga yang artinya yakni tempat berkumpul untuk beribadah).
Dengan demikian , interpretasi yang mengatakan bahwa ‘memecah-mecah roti’ di sana hanya makan-makan biasa , itu yakni interpretasi pribadi , yang tidak sesuai dengan maksud penggunaan kata tersebut pada zaman itu oleh para Rasul. Sebab terperinci kata sebelumnya , yaitu ‘berkumpul/ synaxis‘ itu artinya yakni berkumpul untuk beribadah.
Sedangkan interpretasi bahwa kejadian memecah roti sebanyak dua kali itu juga merupakan kesimpulan yang diambil sendiri , tetapi hal itu tidak disebutkan secara eksplisit dalam perikop tersebut. Yang disebutkan dalam ayat Kis 20:7 yakni bahwa para murid “berkumpul untuk memecah-mecahkan roti” (tidak disebut kapan tepatnya pemecahan roti dilakukan) , dengan Paulus yang bertindak sebagai pembicara. Namun demikian , tidak dikatakan di sana bahwa sementara Paulus berbicara , atau sebelum Paulus berbicara mereka sudah memecah-mecah roti. Yang eksplisit dikatakan di sana adalah  “Karena Paulus amat lama berbicara , orang muda [Eutikhus] itu tidak dapat menahan kantuknya… ” (ay. 8). Maka terperinci ia tertidur bukan karena sedang makan , tetapi karena pembicaraan Paulus yang lama.
Maka yang lebih masuk logika di sini yakni bahwa mereka berkumpul untuk tujuan memecah-mecahkan roti (yaitu beribadah mengenang Perjamuan Tuhan , sebagaimana disebutkan juga dalam Kis 2:42) , yang didahului dengan khotbah pengajaran Rasul Paulus. 
Cara ibadah sedemikian , diajarkan oleh Yesus sendiri kepada dua orang murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus , yaitu bahwa pemecahan roti dilakukan setelah pembacaan dan penjelasan Kitab Suci (lih. Luk 24:13-35). Namun kemungkinan karena pengajaran/ khotbah Rasul Paulus itu yang berlangsung amat lama , maka salah seorang pendengarnya , yang berjulukan Eutikhus , tertidur. Hal ini , walau tidak ideal , mungkin saja terjadi , karena ibadah dikala itu berlangsung hingga menjelang tengah malam , dan pembicaraan yang lama , dapat saja membuat orang mengantuk.
Sejujurnya , kata “memecah-mecahkan roti” yang tertulis dalam Injil  mempunyai korelasi arti dengan Perjamuan , sebagaimana digambarkan dalam mukjizat pergandaan roti (Mat 14:19 , 15:36; Mrk 6:41 , 8:6 ,19; Luk 9:16); Perjamuan Terakhir (Mat 26:26; Mrk 14:22; Luk 22:19); dan  (Luk 24:30 , 35). Oleh karena itu , kata “memecah-mecahkan roti” dalam Kisah para Rasul (Kis 20:7; 27:35) bukan untuk diartikan sekedar makan-makan biasa. Rasul Paulus juga menggunakan istilah ‘memecah roti’ (the breaking of bread) dalam 1 Kor 10:16 , yang berarti ‘persekutuan dengan Tubuh Kristus’.

2. Pada masa awal , Rasul Paulus dan para murid masih datang ke sinagoga pada hari Sabat , dan tidak pada hari Minggu?
Pada dikala Gereja awal , untuk beberapa waktu para Rasul memang masih datang ke sinagoga pada hari Sabat , karena tujuan mereka yakni mewartakan Kristus kepada orang-orang Yahudi yang beribadah di sana (lih. Kis 13:14 , 42-44; 17:2-3; 18:4). Namun ini tidak berarti bahwa para murid tidak berkumpul pada hari pertama di dalam ahad (yaitu hari Minggu) untuk merayakan Kebangkitan Kristus.

3. Penentuan Hari Minggu sebagai Hari Tuhan artinya membatalkan kesucian hari Sabat?

Tidak. Ini yakni kesalahpahaman seseorang kalau ia tidak membaca Kitab Suci sebagaimana Gereja , menurut pedoman Kristus dan para Rasul , membacanya. Gereja  mengajarkan biar kita membaca Kitab Suci dalam kesatuan: artinya bahwa Perjanjian Lama dibaca dalam terang Perjanjian Baru , dan sebaliknya Perjanjian Baru dalam terang Perjanjian Lama . Artinya , apa yang diajarkan dalam Perjanjian Lama yakni untuk digenapi oleh Kristus dalam Perjanjian Baru. Nah penggenapan ini tidak mengharuskan bahwa pelaksanaannya harus sama persis dengan Perjanjian Lama , karena kalau demikian artinya Perjanjian Lama itu tidak pernah diperbaharui oleh Kristus. Adalah kehendak Tuhan sendiri , untuk menggenapi Perjanjian Lama di dalam Kristus dalam Perjanjian Baru. Itulah sebabnya sebelum Kristus menyelesaikan misinya di dunia melalui Misteri Paska-Nya , pelaksanaan Sabat masih mengikuti hukum Taurat; tetapi setelah seluruh nubuat para nabi dalam Perjanjian Lama tergenapi dengan Misteri Paska Kristus (sengsara , wafat , kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Surga) dan Pentakosta , maka perayaan Hari Tuhan diadakan berdasarkan Misteri Paska itu , yaitu hari Kebangkitan Kristus (hari Paska)

Yesus Memberkati kita semua
Print Friendly and PDF
Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: HARI SABAT TUHAN
Ditulis Oleh Sky Geth
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih

Peraturan Berkomentar Di Blog Ini !

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang sopan, santun, baik.
- Dilarang keras komentar Sara,Pornografi,Kekerasan,Pelecehan.
- Berkomentarlah yang berhubungan dengan topik ( no OOT)
Terima Kasih

Berlanganan