Saturday, August 5, 2017

MEJA KAYU

Sahabat FresOn | |

Suatu ketika , ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu , tinggal pula menantu , dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orang renta ini begitu rapuh , dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram , dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun , sang orang renta yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun , membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas , segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu , ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak renta ini.” Lalu , kedua suami-istri ini pun berbagi sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana , sang kakek akan duduk untuk makan sendirian , dikala semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring , keduanya juga menawarkan mangkuk kayu untuk si kakek.
Sering , dikala keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka , terdengar isak duka dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun , kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan biar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.
Suatu malam , sebelum tidur , sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”
Anaknya menjawab , “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti , akan kuletakkan di sudut itu , bersahabat kawasan kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu duka dan terpukul. Mereka tak bisa berkata-kata lagi. Lalu , airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap , kedua orangtua ini mengerti , ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu , mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar dikala ada piring yang jatuh , makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini , mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.


Sahabat , belum dewasa yaitu persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati , pendengaran mereka akan selalu menyimak , dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka yaitu peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan , hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka dikala sampaumur kelak. Orangtua yang bijak , akan selalu menyadari , setiap “bangunan jiwa” yang disusun , yaitu pondasi yang baka buat masa depan anak-anak.

Mari , susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk belum dewasa kita , untuk masa depan kita , untuk semuanya. Sebab , untuk mereka lah kita akan selalu berguru , bahwa berbuat baik pada orang lain , yaitu sama halnya dengan tabungan masa depan.
Print Friendly and PDF
Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: MEJA KAYU
Ditulis Oleh Sky Geth
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih

Peraturan Berkomentar Di Blog Ini !

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang sopan, santun, baik.
- Dilarang keras komentar Sara,Pornografi,Kekerasan,Pelecehan.
- Berkomentarlah yang berhubungan dengan topik ( no OOT)
Terima Kasih

Berlanganan