Sunday, August 27, 2017

TUGAS DAN PANGGILAN GEREJA

Sahabat FresOn | |


    3      Tugas dan Panggilan gereja yakni  :
-   Koinonia (Persekutuan)
-    Marturia (Kesaksian)
-    Diakonia (Pelayanan)


Koinonia (Bersekutu)
Koinonia ialah anglikisasi dari kata Yunani (κοινωνία) yang berarti persekutuan dengan partisipasi intim. Kata ini sering digunakan dalam Perjanjian Baru dari Alkitab untuk menggambarkan relasi dalam gereja Kristen perdana serta tindakan memecahkan roti dalam cara yang ditentukan Kristus selama perjamuan Paskah [John 6:48-69 , Matius 26: 26-28 , 1 Korintus 10:16 , 1 Korintus 11:24]. Akibatnya kata tersebut digunakan dalam Gereja Nasrani untuk berpartisipasi , menyerupai kata Paulus , dalam Persekutuan - dengan cara ini mengidentifikasi keadaan ideal persekutuan dan masyarakat yang harus ada – Komuni (persekutuan).
Penggunaan pertama dari koinonia dalam Perjanjian Baru Yunani ditemukan juga dalam Kisah 2:42-47 , dimana kita membaca deskripsi mencolok dari kehidupan bersama bersama oleh orang-orang Nasrani awal di Yerusalem: "Mereka mengabdikan diri untuk mengajar para rasul dan persekutuan , untuk memecahkan roti dan doa ... Semua orang percaya tolong-menolong dan memiliki segala sesuatu di umum. Menjual harta mereka dan barang-barang , mereka menawarkan kepada siapa pun karena dia perlu ... Mereka memecahkan roti di rumah mereka dan makan tolong-menolong dengan bangga dan dengan nrimo hati , memuji Yang Mahakuasa dan menikmati disukai semua orang. "
Gereja sebagai Koinonia ialah badan Kristus. Di dalam badan Kristus , semua orang menjadi satu , dan satu di dalam semua oleh Kristus (1 Kor.12:26). Persekutuan koinonia itu dialaskan atas dasar Firman Yang Mahakuasa , Baptisan dan Perjamuan Kudus. Dengan dasar itu pulalah anggota gereja saling memperdulikan dan dikumpulkan bersama dalam Perjamuan Kudus sebagai komunitas yang kudus secara nyata. Persekutuan koinonia itu bukan hanya merupakan perkumpulan begitu saja , melainkan persekutuan yang bersifat soteriologis (keselamatan). Oleh Roh Kudus , gereja bergerak dinamis menuju selesai , yaitu penggenapan Hari Tuhan (parusia).
Di dalam persekutuan Koinonia ibadah (workship) berperan merefleksikan kekudusan persekutuan. Ibadah menjadi sentra penyampaian syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas seluruh bekat yang melimpah dalam seluruh sisi kehidupan komunitas gereja , misalnya perkawinan , pekerjaan , kesehatan , peningkatan ekonomi , keberhasilan , keselamatan dari mara ancaman , dsb. Semua berkat ini tentunya meneguhkan kepercayaan yang patut kita syukuri. Oleh karena itu , ibadah juga harus merefleksikan komitmen hidup melayani Tuhan dengan perkataan dan tindakan setiap hari.
Mutu persekutuan haruslah senantiasa dipelihara dan ditingkatkan seiring tantangan dan kecenderungan jaman (nurturing). Iman itu bukanlah sekali dan untuk seterusnya , nmun merupakan proses dalam kehidupan seluruh warga gereja sesuai kebutuhan kategori usia masing-masing; bawah umur , remaja/pemuda , sampaumur dan lansia (Ef.4). Bentuk-bentuk diskusi , Penelaahan Injil (PA) , retreat dan lain-lain , haruslah dikembangkan secara kreatif. Semua kegiatan harus bertujuan membantu warga memahami Injil demi pertumbuhan kepercayaan yang sehat sehingga bisa menyingkapi tantangan jaman ditengah realita kehidupan; politik , ekonomi , kekerasan , hak azasi , gender , ekologi , globalisasi dan sebagainya.
Dengan pemahaman Firman Tuhan dan penghayatan kepercayaan yang benar setiap warga sadar akan dirinya sebagai episode integral gereja yang memiliki panggilan untuk mendukung misi gereja melalui talenta dan charisma yang dimilikinya (imamat am orang-orang percaya). Perlu kita sadari tanpa mendalami pendidikan Nasrani tersebut , persekutuan gereja sebagai badan Kristus (koinonia) akan beralih menjadi komunitas politis (political community).

Marturia (Bersaksi)
Marturia (dari bahasa Yunani: martyria) ialah salah satu istilah yang dipakai gereja dalam melaksanakan acara imannya , sebagai peran panggilan gereja , yaitu dalam hal kesaksian iman. Kesaksian kepercayaan yang dimaksud ialah pemberitaan Injil sebagai info keselamatan bagi manusia. Marturia biasanya disandingkan dengan peran gereja yang lain , yaitu koinonia yang berarti persekutuan dan diakonia atau pelayanan.
Kata "marturia" sendiri sangat erat dengan kata "martir" (dalam bahasa Arab: "syahid") , yaitu orang-orang yang mati karena memberitakan Injil pada zaman sesudah Yesus Kristus.[1] Memang banyak orang Kristen perdana yang harus mengalami penganiayaan karena kepercayaannya , dan pengorbanan ini terus berlanjut hingga sekarang. Karenanya , istilah "marturia" dan "martir" itu banyak kali dirancukan , dan diasosiasikan dengan para "syuhada" , yaitu orang-orang Nasrani yang disiksa hingga mati karena imannya , atau para misionaris yang dibunuh dalam menjalankan tugasnya , memberikan info Injil ke tempat-tempat yang belum pernah mendengar info itu.
Ibadah koinonia yang berpusat atas dasar Baptisan , Firman Tuhan dan Perjamuan Kudus bukan bertujuan hanya untuk persekutuan itu secara langsung tetapi harus melahirkan komitmen untuk memberitakan dan menyaksikan info keselamatan kepada semua mahluk. Pemberitaan dan kesaksian itu harus dilakukan oleh orang percaya baik secara individu maupun sebagai persekutuan.
Kita dipanggil oleh Tuhan Yesus secara individu maupun persekutuan untuk melaksanakan misi Tuhandi bumi ini. Yesus Kristus mati di kayu salib  – kita percaya Tuhan Yang Mahakuasa dating ke dunia ini di dalam AnakNya Yesus Kristus yang telah mati untuk menyelamatkan kita dan dunia ini. Oleh karena itu peran pemberitaan (marturia) itu harus dilakukan oleh persekutuan gereja baik individu maupun persekutuan masing-masing. Setiap orang sadar akan kemuridannya (discipleship) dalam perjalanan hidupnya. Sekali kita menyadari hal itu maka kita harus memiliki komitmen dan kesetiaan sebagai murid Yesus Kristus. Dengan kesadaran sedemikian persekutuan menjadi alat yang berpengaruh untuk mengkominikasikan info keselamatan Kristus.

Diakonia (Melayani)
Pemberitaan dan kesaksian itu tidaklah selalu dilaksanakan dengan kata-kata tetapi juga dengan perbuatan atau pelayanan diakonia. Perlu kita ingat , ada kalanya bunyi perbuatan lebih nyaring gaungnya dari pada perkataan. Dengan tindakan maka Injil juga dapat diberitakan dan di dengar oleh orang-orang tuli.
Barangkali di suatu konteks tertentu gereja sulit melaksanakan pemberitaan firman Tuhan (khotbah) karena peraturan-peraturan Negara terkait , dengan tujuan membungkam gereja akan info keselamatan itu. Akan tetapi dengan pelayanan diakonia gereja tidak dapat dibungkam karena persekutuan koinonia memiliki seluruh berkat dalam kehidupannya yang dapat dibagi kepada orang lain dalam nam Yesus Kristus.
Perkataan , kehidupan dan tindakan diakonia yang kita berikan kepada orang lain atas nama Tuhan Yesus Kristus ialah juga marturia. Maka dari itu , diakonia ialah episode integral dari misi Gereja. Marturia dan diakonia ialah dua sisi dari mata uang yang sama dan merupakan misi gereja yang mendasar.
Pelayanan diakonia sering dipahami hanya sebatas konsep caritas , membantu para janda , yatim piatu , fakit miskin demi kesejahteraannya. Sebenarnya , gereja dalam pelayan diakonia harus mencakup : pelayanan diakonia mencakup upaya pemahaman akar penyebab keprihatinan social sekaligus berbagi prakarsa pemberdayaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak.
Hanya dengan pemahaman pelayanan diakonia sedemikian gereja dapat berfungsi sebagai biro transformasi ditengah masyarakat sebagai pewujudan karya keselamatan Yesus Kristus. Gereja menjadi garam dan jelas dunia.

Seberapa pentingkah diakonia bagi pelayanan gereja ?
Istilah “diakonia” berasal dari bahasa Yunani ,  διακονια artinya pelayanan , sedangkan orang yang melakukannya disebut sebagai pelayan (δίακονος).
J. C. Sikkel pernah mengatakan bahwa “The church can live without buildings , without diakonea the church dies”.   Secara teologis ini berarti , bahwa diakonia ialah nafas gereja. Gereja gres menjadi gereja sesungguhnya bila melaksanakan diakonia , oleh karenanya diakonia sangat penting dalam rangka pertanda keberadaan gereja pada ketika ini.
Misi Gereja ialah mewartakan Firman Yang Mahakuasa dalam rangka mewujudkan kerajaan Yang Mahakuasa di dunia. Misi tersebut tidak akan dapat dilakukan tanpa diakonia karena diakonia ialah fungsi Gereja yang sebenarnya (Nafas Gereja).  Oleh karena itu , pelayanan tersebut bukanlah suatu pilihan atau kekhususan bagi para pelayan tahbisan akan tetapi merupakan peran dan tanggung jawab bagi setiap orang yang telah mendapatkan baptisan. Tugas dari para pelayan ialah membenahi warga jemaat , semoga menjadi pelaku diakonia demi pembangunan badan Kristus di dunia ( Efs.4:12). Oleh karena itu diakonia harus bisa memberdayakan , membangun dan membentuk persekutuan persaudaraan sehingga dalam mewujudkan persekutuannya jemaat saling bergantung dan saling melayani antara satu dengan yang lain.

Bentuk – bentuk Diakonia
1. Diakonia Karitatif.
Ada beberapa pendapat yang mengatakan diakonia karitatif ialah bentuk diakonia yang tradisional. Charity ialah tindakan belas kasihan. Tindakan yang merefleksikan belas kasihan Yang Mahakuasa kepada manusia. Banyak gereja mendasarkan Matius 25 : 31-46 sebagai bentuk diakonia karitatif. Diakonia karitatif hanya melihat kondisi yang terjadi ketika ini , hanya melihat penderitaan , kemiskinan , bencana ataupun bentuk–bantuk lainya tanpa mencari lebih jauh apa yang menjadi penyebab terjadinya penderitaan tersebut. Pdt. Mart Erkelina Br Tarigan S. Th dalam bimbingan PJJ menegaskan bahwa diakonia karitatif hanya bersifat insidental dan filantropis.
Kongkritnya referensi bentuk diakonia karitatif ialah menawarkan sembako pada korban-korban musibah , menawarkan santunan kepada fakir miskin , menawarkan pinjaman kepada panti asuhan. Jika kita contohkan dalam acara pemerintah maka yang tergolong dengan diakonia karitatif ialah acara BLT. Diakonia bentuk ini di istilahkan dengan memberi ikan.

2. Diakonia Reformatif
Ada perkembangan pemikiran yang terjadi pada diakonia reformatif ini dimana ketika jemaat kelaparan tidak lagi hanya memeberikan roti atau ikan namun menawarkan kail yang mendidik masyarakat untuk berusaha menghidupinya atau dengan kata lain menawarkan pengetahuan , keterampilan semoga bisa keluar dari kemiskinan dan permasalahan yang dihadapi. Persolan lain muncul ketika lahan untuk bercocok tanam sudah tidak ada lagi dan kolam untuk memancing tidak ada lagi maka tetaplah kemiskinan tidak teratasi.
Pelayanan diakonia ini lebih menekankan pada aspek pembangunan. Pendekatan yang dilakukan ialah dengan community development

3. Diakonia Transformatif
Diakonia transformatif awalnya dipelopori oleh gereja di Amerika Latin untuk menjawab kemiskinan yang sangat parah pada waktu itu. Diakonia transformatif merupakan bentuk kepedulian gereja yang terlibat langsung dalam persoalan-persoalan sosial kemanusian. Diakonia seharusnya tidak hanya menawarkan belas kasihan kepada korban-korban kemiskinan dengan cara menawarkan bantuan-bantuan karena kalau hanya dengan cara itu besok mereka akan datang lagi dan alhasil terciptalah mental-mental ketergantungan. Namun dengan diakonia transformatif pendekatanm yang dilakukan ialah dengan pola pendekatan pengorganisasian komunitas semoga mereka dapat merancang dan merencanakan hidup mereka sendiri.   Abraham Kuyper , seorang teolog Calvinis mengatakan bahwa gereja terlalu lamban dalam bertindak dan telah ketinggalan dalam menghadapai kemiskinan dibandingkan dengan lembaga-lembaga lain di luar gereja. (Matius 9:35-38). Pt. Robert Sinuhaji SE dalam bukunya yang berjudul Gereja dan Politik secara keras menyatakan “tanpa kepedulian terhadap orang-orang miskin , maka gereja sesunguhnya telah gagal mengemban misi kristen” Saat ini seharusnya kita sadar bahwa misi Yesus hadir tidak hanya pada masalah-masalah rohani semata , namun Yesus menyentuh permasalahan kemanusian (sosial ,politik ,hukum ,ekonomi) , (Luk4:18-19). Yesus bukan hanya menentang anutan kepercayaan yang Ia rasa menyimpang namun Yesus juga menentang kekuasaan yang menindas kaum miskin yang disebabkan oleh kebijakan-kebijakan mereka. (Mat 23:1-36).
Yesus disalibkan karena pengusa Romawi pada ketika itu merasa terancam akan keberanian Yesus membela kaum tertindas. Jika dianalogikan Yesus ingin mencapai sebuah situasi dimana kita butuh nasi , tetapi kita ingin memperolehnya dengan keadilan (justice). Kita butuh nasi , tetapi kita ingin memperolehnya dengan kebebasan (freedom). Kita butuh nasi , tetapi kita ingin memperolehnya dengan martabat dan pengharapan (dignity and hope).    Cerita orang samaria yang sering dijadikan materi referensi akan kepedulian nya kepada korban perampokan (victim) dibandingkan orang Lewi yang mengenal hukum taurat nampaknya harus dikaji lebih mendalam lagi. Benar , bahwa satu sisi ada nilai plus yang dimiliki oleh orang samaria akan kepedulianya terhadap korban perampokan tersebut namun sudah seharusnya kita pada tahap pemahan yang lebih tinggi lagi , dimana kepedulian terhadap korban perampokan sudah “harus” kita lakukan tetapi tidak hanya hingga disitu melainkan kita sudah harus hingga kepada tahap apa yang menjadi latar belakang terjadinya angka kriminalitas dan solusi apa yang harus kita temukan. Disinilah penitikberatan diakonia transformatif hadir.
Gereja diperlukan hadir menawarkan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat umum di pedesaan bagaimana cara bercocok tanam yang baik , bertani dengan kembali ke alam (back to nature) tidak lagi menggunakan pupuk kimia dan juga bisa membantu pemasaran produk hasil pertanian hingga kepada konsumen sehingga hingga kepada hasil selesai yang diharapakan dengan membantu dari awal hingga akhirnya. Gereja diperlukan memiliki perhatian kepada pendidikan secara ril , hal ini antara lain ditunjukan GBKP dengan mendirikan Yayasan pendidikan Nasrani Neumann Indonesia , mendirikan PAK Gelora Kasih. Kedepanya GBKP diperlukan bisa menyiapkan lapangan kerja bagi lulusan-lulusan tersebut sehingga lulusan tersebut tidak terbentur lagi dengan sulitnya mencari lapangan pekerjaan. GBKP juga concern terhadap masalah-masalah kesehatan dengan mendirikan komisi HIV – AIDS dan Napza. Program Diakonia GBKP lainya antara lain mendirikan BPR Pijer Podi kekelengan dimana salah satu tujuan didirikanya ialah mengatasi kemiskinan dengan melayani masyarakat pedagang kaki lima semoga tidak terjerat oleh para rentenir.
Gereja diperlukan tidak hanya bisa berbuat kepada mereka yang telah mengenal Kristus tetapi juga kepada masyarakat luas dalam bentuk-bentuk diakonia yang lebih transformatif , menawarkan pemamahan akan kesetaraan gender , gereja bisa hadir dalam penegakan masalah HAM , gereja bisa menawarkan solusi ihwal penanggulangan ilegal loging , gereja menawarkan pembelaan (advocacy) kepada masyarakat lemah. Hal ini dapat dialakukan gereja dengan membentuk suatu lembaga yang khusus concen mengurusi masalah-masalah kemanusian.
Namun harus disadari persolan yang lain akan muncul ketika gereja secara berani dan tegas benar-benar mewujudkan diakonia sebagai peran panggilan gereja. Di India ketika ibu Theresa sangat perduli kepada orang–orang miskin bukan respon positif yang ia dapatkan akan tetapi tuduhan bahwa ibu Theresa berniat meng – Khatolik – an India pada ketika itu. Masih segar di ingatan kita juga ketika terjadi bencana tsunami di Aceh dan gempa bumi di Jogjakarta , banyak dari kita yang turut ambil episode dalam membantu korban-korban bencana tersebut namun isu kristenisasi yang berkembang di masyarakat pada waktu itu. Sadar atau tidak ketika kita menawarkan pinjaman dalam bentuk apapapun juga dengan dilatar belakangi oleh gereja maka akan ada penolakan baik itu secara tersirat ataupun munculnya opini negatif dikemudian hari bagaiman mungkin diakonia transformatif dapat kita terapkan kalau penolakan yang akan kita hadapi…???
Keadaan ini harus diatasi dengan jalan kita menerapakan diakonia transformatif dengan melepaskan gereja sebagai sebuah organisasi namun melihat pengertian gereja sebagai individu kita masing masing , bukankah ini pengertian gereja yang sesungguhya (1 Petrus 2:9). Hati kita sudah seharusnya memiliki visi penerapan diakonia trsformatif bagaimana hadir untuk membela kaum-kaum marjinal , hadir dalam kehidupan sosial pengentasan kemiskinan dan terlibat langsung pada sebuah sistem kebijakan yang kedepaannya bisa menciptakan kebijakan yang berpihak pada masyarakat lemah (Mat 5:13-15). Warga Nasrani seharusnya hadir dimana–mana , disetiap bidang kemanusiaan dan bisa hadir dengan ide-ide penanggulangan permasalahan kemanusian yang ada pada ketika sekarang ini. Seorang pengusaha bisa menciptakan lapangan kerja selaus-luasnya , Politikus mampun menciptakan produk undang-undang yang berpihak kepada rakyat , jago hukum berani menegakkan keadilan , jurnalis tetap menyuarakan bunyi rakyat (Vox Populi Vox Dei) dan lain sebagainya.

Ketiga model diakonia tersebut membantu gereja untuk segera dapat melaksanakan peran dan panggilannya sebagai gereja yang akan mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Yang Mahakuasa dalam praxis pembebasan dan bagi pelayanannya yang holistik , komprehensif dan memberdayakan!


Sumber :

-          Widyatmadja , Yosep P. Yesus dan Wong Cilik. Jakarta: BPK Gunung Mulia , 2010.
-           Diakonia Sebagai Misi Gereja: Praksis dan Refleksi Diakonia Transformatif. Yogyakarta: Kanisius , 2009.
-          van Kooij dkk , Rijn. Menguak fakta , Menata Karya Nyata: Sumbangan Teologi Praktis Dalam Pencarian Model Pembangunan Jemaat Kontekstual. Jakarta: BPK Gunung Mulia
-          A. Noordegraaf , Orientasi Diakonia Gereja , (ed). , Sahetapy , (Jakarta: BPK-Gunung Mulia ,2004) ,4
-          J.L.Ch. Abineno , Sekitar Diakonia Gereja , (Jakarta:BPK-Gunung Mulia , 1976) , 53
 
Print Friendly and PDF
Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: TUGAS DAN PANGGILAN GEREJA
Ditulis Oleh Sky Geth
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih

Peraturan Berkomentar Di Blog Ini !

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang sopan, santun, baik.
- Dilarang keras komentar Sara,Pornografi,Kekerasan,Pelecehan.
- Berkomentarlah yang berhubungan dengan topik ( no OOT)
Terima Kasih

Berlanganan