Sunday, September 3, 2017

PERPULUHAN DAN PERSEMBAHAN

Sahabat FresOn | |


Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu , maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah , dan baskom pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya. ( Amsal 3:9-10)

Hendaklah masing-masing menunjukkan (persembahan persepuluhan atau semua jenis persembahan yang lain) menurut kerelaan hatinya , jangan dengan duka hati atau karena paksaan , alasannya yaitu Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita (2 Korintus 9:7)

Ayat diatas sering dikutip , dalam hal memberi persembahan di Gereja-gereja.
Persembahan persepuluhan menjadi perbincangan yang menarik , karena banyak hal seputar persembahan ini yang masih menjadi tanda tanya. Misalnya , tatkala kita mempertanyakan wajib atau tidaknya menunjukkan persembahan persepuluhan , atau sepersepuluh dari penghasilan yang mana.

kita harus memahami apa sebetulnya makna persembahan menurut dogma Nasrani kita.

Pertama : Persembahan yaitu tanda pengakuan
Dengan memberi persembahan kita mengaku bahwa badan , jiwa , dan roh serta segala yang ada pada kita yaitu berasal dari Tuhan dan pada hakikatnya milik Tuhan. Diri kita dan seluruh harta kita seratus persen yaitu milik Tuhan yang dipercayakanNya kepada kita untuk kita kelola dan nikmati sesuai dengan kehendak Tuhan , dan kita pertanggungjawabkan kepadaNya (Matius 25:14-30). Sebagian dari apa yang ada itu kita potong (dengan sadar dan sengaja) dan kita kembalikan lagi kepada Tuhan dalam ibadah sebagai tanda pengesahan kita bahwa diri dan segala kekayaan kita berasal dari Tuhan dan pada dasarnya milik Tuhan.
Tradisi Israel kuna menyebutkan jumlah yang harus kita potong untuk diserahkan sebagai persembahan itu yaitu sepuluh persen dari hasil panen dan ternak , alasannya yaitu itulah disebut persepuluhan. Pada awalnya berbentuk natura kemudian dapat digantikan dengan uang. Sebenarnya bukan jumlah pinjaman sepuluh persen itu yang pokok , alasannya yaitu menyerupai dikatakan di atas hidup kita seratus persen yaitu pinjaman dan milik Tuhan. Satu lagi: Tuhan yaitu Pemilik kehidupan dan Dia sama sekali tidak tergantung kepada pinjaman kita (Mazmur 50). Lagi pula Tuhan itu maha baik dan maha pemurah , Dia mengasihi kita dan bahkan menunjukkan AnakNya yang tunggal kepada kita (Yohanes 3:16). Lantas apa makna persepuluhan itu? Dengan mengembalikan sepersepuluh atau 10% dari penghasilan dan kekayaan pinjaman Tuhan kita mau melatih dan mendisiplinkan diri kita mengaku bahwa Tuhanlah yang empunya hidup kita. Artinya: kita mau mencar ilmu menunjukkan persembahan secara tetap dan teratur , tidak tergantung mood atau suasana hati , juga situasi dan kondisi ekonomi. Ini baik dalam rangka melatih iman.




Kedua:persembahan tanda syukur dan terima kasih.
Dengan memberi persembahan kita mengaku bahwa kita sudah mendapatkan sangat banyak kebajikan dan kemurahan Tuhan. Sebagian kita kembalikan kepada Tuhan sebagai tanda syukur atau ucapan terimakasih. Sebab itu kita memberikannya dengan penuh sukacita dan ikhlas! Persembahan alasannya yaitu itu yaitu respons atau balasan orang beriman terhadap kasih dan berkat Tuhan yang begitu besar kepadanya. Persembahan yaitu respons karena dan bukan syarat supaya mendapatkan berkat Allah! Persembahan termasuk persepuluhan bukanlah situmulans untuk merangsang kebajikan Tuhan namun respon orang beriman terhadap kebajikan Allah.
Sebab itu Maleakhi 3:10 juga harus dipahami bukan sebagai perintah Tuhan untuk memaksa kita memberi “upeti” kepadaNya , tetapi lebih sebagai permintaan Tuhan semoga kita percaya kepadaNya bahwa Dia baik dan setia serta selalu mencurahkan segala berkatNya. Kita tidak sedang bernegosiasi urusan ekonomi dengan Tuhan. Tanpa disogok , atau diberi persembahan pun , Tuhan Tuhan tetap baik dan setia , serta melimpahkan rahmatNya kepada kita. Namun sebagai orang-orang beriman tentu kita pantas bersyukur. Salah satu ungkapan syukur itu yaitu memberi persembahan persepuluhan. Atau: persembahan mingguan , bulanan , atau tahunan. Sebagai persembahan syukur gereja tentu tidak perlu mematok jumlahnya. Jika kita mau komit (tanpa diperintah oleh siapapun) menunjukkan 10% dari penghasilan kita baik-baik dan sah-sah saja. Jika kita menetapkan kurang atau lebih juga baik dan sah. Ingat: Tuhan tidak membutuhkan belas kasihan umatNya. Sebaliknya Dialah yang berbelas kasih kepada umatNya. Karena itulah doa persembahan selalu berbunyi: Siapakah kami ini sehingga dapat memberi kepadaMu?

Ketiga: tanda kasih dan kemurahan hati.
Yesus Kristus sudah menunjukkan diriNya kepada kita , menderita dan berkorban bagi kita. Sebab itu kita juga mau memberi , mengembangkan dan berkorban bagi sesama kita. Sebagaimana Kristus rela memecah-mecah badan dan mencurahkan darahNya untuk umat yang dikasihiNya , kita juga mau memecah-mecah roti dan berkat kehidupan untuk sesama. Ketika memberi persembahan kita sekaligus mau mengingatkan diri kita dan membaharui komitmen/ komitmen kita untuk selalu memberi , mengembangkan dan berkorban sebagaimana telah diteladankan oleh Kristus , Tuhan kita. (I Yoh 3:16-18).
Tidak ada patokan yang mengatakan bahwa persembahan persepuluhan harus ditujukan kepada gereja sebagai organisasi. Persembahan persepuluhan juga mampu diberikan kepada orang-orang miskin , lembaga sosial dan kemanusiaan. Yang penting di sini yaitu persembahan persepuluhan itu yaitu juga sekaligus tanda komitmen solidaritas dan cinta kasih kita kepada saudara-saudara Tuhan yang miskin , sakit , menderita dan terabaikan. Apa yang kita berikan kepada saudara-saudara Yesus yang miskin sama artinya dengan memberikannya kepada Tuhan. Sebab itu DS dan kita silahkan saja tentukan kemana hendak menyalurkan komitmen persepuluhannya. Bisa utuh kepada gereja , lembaga sosial dan kemanusiaan , atau dibagi-bagi. Jika menyampaikannya kepada gereja mampu juga tentukan persembahan persepuluhan secara spesifik ditujukan untuk pelayanan dibidang apa: diakoni , kesaksian , pembangunan , sekolah ahad dan lain-lain.

Keempat: tanda dogma atau kepercayaan
Kita percaya bahwa Tuhan mencukupkan kebutuhan kita dan menjamin masa depan kita. Sebab itu kita tidak perlu kuatir atau kikir. Dengan memberi persembahan kita mau mengatakan kepada diri kita bahwa kita tidak takut kekurangan di masa depan alasannya yaitu Tuhan menjamin masa depan. Persembahan yaitu tanda dogma kita kepada pemeliharaan Tuhan di masa depan. Sebab itu kita memberi persembahan tidak hanya di masa kelimpahan tetapi juga di masa kekurangan , tidak saja sewaktu kaya namun juga ketika miskin. (Lih. Flp 4:17-19 , II Kor 9:8).
Dengan menunjukkan persembahan , termasuk persepuluhan , termasuk di ketika kita miskin atau kekurangan , kita sebetulnya mau melatih diri kita tetap beriman kepada Tuhan. Bahwa dengan menunjukkan sepersepuluh dari penghasilan kita maka kita tidak akan jatuh semakin miskin atau mati kelaparan. Di sini tentu saja kita harus kritis. Seandainya karena satu atau lain hal kita “gagal” menunjukkan persembahan perpuluhan kita juga tidak perlu merasa berdosa. Tuhan tidak pernah menuntut apa-apa dari kita. Dia sangat mengasihi kita. Namun , sebaliknya kita harus juga hati-hati , alasannya yaitu kita juga mampu jatuh dalam sikap pembenaran diri , bermain-main atau seenaknya saja dalam memberi persembahan. Dan hal itu tidak baik bagi perkembangan jiwa kita. Kita harus mencar ilmu bertumbuh dan semakin sampaumur dalam iman. 

Ada ilustrasi yang mungkin lebih mudah dipahami mengapa kita  perlu  bersyukur atas berkat yang sudah kita terima (berkaitan dengan persembahan )

CERITA TENTANG SEORANG MITRA BISNIS YANG MURAH HATI

Suatu hari , seseorang yang sangat kaya sedang berjalan-jalan. Dalam perjalanan , ia melihat seorang pengemis di sisi jalan. Orang kaya tersebut melihat dengan belas kasih kepada si pengemis dan berkata , "Bagaimana engkau menjadi seorang pengemis?”
Pengemis tersebut menjawab , "Pak , saya telah melamar pekerjaan selama setahun tetapi belum mendapatkan satu pun. Anda terlihat menyerupai orang kaya. Pak , kalau Anda menunjukkan saya pekerjaan , saya akan berhenti mengemis."
Orang kaya tersebut tersenyum dan berkata , "Saya ingin membantu Anda. Namun , saya tidak akan menunjukkan Anda pekerjaan. Saya akan menunjukkan Anda sesuatu yang lebih baik. Saya ingin menimbulkan Anda mitra urusan ekonomi saya. Mari memulai perjuangan bersama."
Si pengemis berkedip. Ia tidak mengerti apa maksud perkataan orang tersebut. "Apa maksud Anda , Pak?"
Orang kaya itu berkata , "Saya memiliki sawah untuk menanam padi. Anda mampu menjual beras di pasar. Saya akan menyediakan kantung berasnya. Saya akan membayar sewa untuk kios di pasar. Saya bahkan akan menunjukkan Anda uang makan setiap hari selama 30 hari. Yang harus Anda lakukan hanyalah menjual beras saya. Dan setiap simpulan bulan , sebagai Mitra Bisnis , kita akan membagi hasil keuntungan."
Air mata sukacita mengalir dari pipi orang tersebut. "Pak , Anda sungguh karunia dari surga. Anda yaitu balasan untuk doa saya. Terima kasih , terima kasih , terima kasih!" Ia berhenti sebentar , lalu bertanya , "Pak , bagaimana kita membagi hasilnya? Apakah saya menyimpan 10% dan Anda mendapatkan 90% ? Atau saya 5% dan Anda 95%? Saya akan bahagia dengan apapun pembagiannya."
Orang kaya tersebut tertawa dan menggelengkan kepada , "Tidak , saya hanya ingin Anda menunjukkan 10% kepada saya. Dan Anda menyimpan 90% keuntungannya."
Sejenak , pengemis tersebut tidak mampu berbicara. Hal ini terlalu mengagetkan. Dan orang kaya tersebut tertawa lebih keras. Ia menjelaskan , "Aku tidak membutuhkan uang , temanku. Saya sudah kaya melebihi apa yang Anda bayangkan. Saya ingin Anda menunjukkan saya 10% dari keuntunganmu sehingga Anda mampu bertumbuh dalam kesetiaan dan rasa syukur."
Pengemis tersebut berlutut di hadapan penolongnya dan berkata , "Ya , Pak , saya akan melaksanakan apa yang Anda katakan. Bahkan sekarang , saya sangat bersyukur untuk apa yang telah Anda lakukan bagi saya!"
Dan begitulah yang terjadi……...
IA LUPA DARI MANA BERKAT TERSEBUT BERASAL
Setiap hari , si pengemis—sekarang berpakaian dengan lebih baik—menjalankan sebuah toko beras di pasar. Ia bekerja dengan sangat giat. Ia bangkit pagi-pagi dan tidur larut malam. Dan penjualannya meningkat cepat , karena beras tersebut yaitu beras berkualitas terbaik. Dan setelah 30 hari , keuntungannya sangat mencengangkan.
Di simpulan bulan , sementara mantan pengemis tersebut menghitung uangnya , dan sangat menyukai perasaan memegang uang di tangannya , sebuah wangsit muncul di pikirannya. Ia berkata , "Ah , mengapa saya harus menunjukkan 10% kepada Mitra Bisnis saya? Saya tidak melihat beliau selama sebulan penuh! Sayalah yang bekerja pagi dan malam untuk urusan ekonomi ini. Saya melaksanakan semua pekerjaan ini! Saya layak memperoleh 100% keuntungan!"
Beberapa menit kemudian , orang kaya tersebut mengetuk pintunya untuk mengambil 10% bagiannya. Mantan pengemis tersebut membuka pintu dan berkata , "Anda tidak layak memperoleh 10%. Saya bekerja keras untuk ini. Saya layak memperoleh semuanya!" Dan ia membanting pintunya.
Jika Anda sebagai mitra bisnisnya , bagaimana perasaan Anda?
Teman-teman , inilah yang terjadi pada kita.
Saya punya pengumuman untuk Anda: Tuhan yaitu Mitra Bisnis Anda. Dan Mitra Bisnis Anda menunjukkan Anda segalanya.
Allah menunjukkan Anda hidup—setiap ketika , setiap hembusan napas , setiap detik... Tuhan menunjukkan Anda talenta—kecakapan Anda untuk berbicara , untuk mencipta , untuk menghasilkan uang... Tuhan memberi Anda tubuh—mata Anda , indera pendengaran Anda , lisan , tangan , kaki , dan jantung Anda... Tuhan menunjukkan Anda pikiran—imajinasi Anda , emosi Anda , logika , emosi...
Dalam Perjanjian Lama , Mitra Bisnis Anda hanya meminta Anda menunjukkan 10% adegan keuntungan. Namun , saya melihat banyak orang yang tidak ingin memberikannya , karena mereka merasa mereka memiliki semua adegan yang mereka hasilkan.

Salah besar.
Beberapa orang Nasrani mempercayai bahwa mereka tidak perlu menunjukkan persembahan atau perpuluhan karena itu yaitu Hukum Perjanjian Lama. Mereka mengatakan bahwa di Perjanjian Baru , Tuhan mengatakan kepada kita untuk memberi sebagaimana dituntun oleh Roh Tuhan untuk memberi.
Saya setuju. Namun , apakah itu berarti kita seharusnya memberi kurang dari Perjanjian Lama?
Cerita sebelumnya di atas yaitu versi Perjanjian Lama.
Saya akan membagikan kepada Anda versi kedua.

BEGINILAH VERSI PERJANJIAN BARU
Dalam dongeng saya versi Perjanjian Baru , dongeng dimulai dengan cara yang sama. Orang kaya mengatakan kepada si pengemis bahwa ia ingin berbisnis dengannya. Dan setelah si pengemis ternganga keheranan , ia bertanya , "Pak , bagaimana kita membagi keuntungan? Apakah saya menyimpan 10% dan Anda mendapat 90% bagiannya?"
Malah orang kaya tersebut akan berkata , "Berikan saja saya 10% ," katanya , "Engkau tentukan seberapa banyak engkau ingin memberi kepadaku. Berikan seturut rasa syukurmu."
Coba katakan kepada saya: akankah si pengemis memberi 10% saja?
Beginilah interpretasi saya: memberi 10% yaitu titik awal dari memberi dengan rasa syukur. Banyak orang berpikir bahwa 10% yaitu maksimumnya. Saya tidak sependapat.

10% bagaikan seorang anak bersepeda dengan roda latihan—itu yaitu untuk orang yang tidak mengerti bagaimana cara menjadi murah hati tetapi mau belajar. Dan sebagaimana Anda mencar ilmu untuk memberi 10% , Tuhan akan mengajarkan kepada Anda untuk memberi dengan lebih murah hati.

"Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan , supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku , firman TUHAN semesta alam , apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu hingga berkelimpahan." Maleakhi 3:10)

Print Friendly and PDF
Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: PERPULUHAN DAN PERSEMBAHAN
Ditulis Oleh Sky Geth
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih

Peraturan Berkomentar Di Blog Ini !

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang sopan, santun, baik.
- Dilarang keras komentar Sara,Pornografi,Kekerasan,Pelecehan.
- Berkomentarlah yang berhubungan dengan topik ( no OOT)
Terima Kasih

Berlanganan