Saturday, September 16, 2017

TELADAN KASIH DARI SEORANG TUKANG BECAK

Sahabat FresOn | |


Mungkin ini yakni kisah lama. tapi gue tertarik ingin mengulasnya lagi mengingat sudah berkurangnya rasa solidaritas pada bangsa ini.Kalau orang kaya mau menyumbangkan hartanya tentu itu bukan suatu keajaiban. Tapi jikalau orang miskin mau menyumbangkan hartanya membuatkan dangan yang lain itu sangat mengetuk hati kita. Berikut ini kisang seorang Bai fang Li , seorang tukang becak miskin yang menyumbang seluruh hartanya untuk belum dewasa miskin.

BAI FANG LI yakni seorang tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskankan di atas sadel becaknya , mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya , dengan imbalan uang sekedarnya.

Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melaksanakan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Dia melalang dijalanan , di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li , alasannya yakni ia langsung yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun alasannya yakni kebaikan hatinya itu , banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin alasannya yakni tidak tega , melihat bagaimana badan yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi jikalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh , di tempat yang tergolong kumuh , bersama dengan banyak tukang becak , para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya , alasannya yakni ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar bau tanah yang telah robek-robek dipojok-pojoknya , tempat dimana ia biasa merebahkan badan penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.
 
Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia gres beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah memperlihatkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang gres berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat dipundaknya , namun terus dengan semangat melaksanakan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat terang terpancar dimukanya , ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu , dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman , mungkin ia mengucapkan syukur pada Allah untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja , dan mendapatkan upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ketempat sampah , mengais-ngais sampah , dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor , ia bersihkan kotoran itu , dan memasukkan roti itu kemulutnya , menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu , ia hampiri anak lelaki itu , dan membuatkan makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran , mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya , padahal uang yang diperolehnya cukup banyak , dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.

“Uang yang gue dapat untuk makan adik-adik saya….” jawab anak itu.

“Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.

“Saya tidak tahu…. , ayah ibu gue pemulung…. Tapi semenjak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung , mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk gue dan dua adik gue yang masih kecil…” sahut anak itu.

Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki berjulukan Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing , dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali , kurus , kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan jikalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu , alasannya yakni memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah , jangankan untuk mengurus orang lain , mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu belum dewasa miskin itu semoga mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak ketika itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi hingga jam delapan malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan pembeli dua potong kudapan manis kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya , seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melaksanakan semua itu , ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmmm… tapi masih cukup bagus… gumannya senang.

Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun , tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti , ditengah angin puting-beliung salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat aben badan kurusnya.

“Tidak apa-apa gue menderita , yang penting biarlah belum dewasa yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan gue bahagia melaksanakan semua ini… ,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.

Hari demi hari , bulan demi bulan dan tahun demi tahun , sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun , beliau mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.


Bai Fang Li berkata , “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat gue sumbangkan……” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis……..


Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun , ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu , beliau telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 ( setara 470 juta rupiah) yang beliau berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 belum dewasa miskin.

Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya yakni sebuah foto dirinya yang bertuliskan ” Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”.

Sumber: http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=77991
Print Friendly and PDF
Terima Kasih Anda Telah Membaca Artikel
Judul: TELADAN KASIH DARI SEORANG TUKANG BECAK
Ditulis Oleh Sky Geth
Berikanlah saran dan kritik atas artikel ini. Salam blogger, Terima kasih

Peraturan Berkomentar Di Blog Ini !

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang sopan, santun, baik.
- Dilarang keras komentar Sara,Pornografi,Kekerasan,Pelecehan.
- Berkomentarlah yang berhubungan dengan topik ( no OOT)
Terima Kasih

Berlanganan